Jokowi Tak Akan Bisa Menghipnotis Kembali Bangsa Indonesia, Begini Kata Pengamat
Kredit Foto: Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden
Pengaruh politik Mantan Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) dinilai mulai memudar menjelang kontestasi Pemilu 2029.
Pandangan itu disampaikan Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, yang menilai Jokowi kini tidak lagi memiliki daya magnet politik sebesar beberapa tahun lalu.
Baca Juga: PSI Bisa Gagal Lagi ke Senayan Gegara Rencana Jokowi, Begini Kata Pengamat
Menurut Jamiluddin, perubahan persepsi publik terhadap Jokowi membuat dukungan politik mantan presiden tersebut tidak lagi otomatis menguntungkan pihak yang didukungnya.
“Jokowi bukan lagi sosok yang mampu menghipnotis anak bangsa untuk berpihak kepadanya,” kata Jamiluddin dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).
Ia menyebut Jokowi saat ini menjadi figur yang semakin kontroversial di tengah sejumlah polemik yang berkembang di publik.
“Jokowi saat ini adalah sosok kontroversial, termasuk terkait ijazahnya,” ujarnya.
Penilaian tersebut muncul di tengah rencana Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadikan Jokowi sebagai patron politik partai menuju Pemilu 2029.
PSI bahkan menyebut Jokowi siap turun langsung ke berbagai daerah untuk membantu partai tersebut.
Ketua DPP PSI Bestari Barus mengatakan Jokowi akan aktif membersamai PSI dalam agenda politik mendatang.
“Dan semakin menjadi keyakinan publik bahwa Pak Jokowi sudah tidak di mana-mana, dan berada dengan PSI mulai bersama dengan PSI untuk pemenangan Pemilu 2029 tentunya,” kata Bestari.
Namun, Jamiluddin menilai PSI perlu berhati-hati membaca kekuatan pengaruh Jokowi saat ini.
Menurut dia, dukungan Jokowi belum tentu efektif mengerek elektabilitas partai, bahkan berpotensi memunculkan resistensi di masyarakat.
Baca Juga: Fakta Kondisi Kesehatan Jokowi, Sempat Alami Alergi Kulit hingga Kini Mengaku 99 Persen Pulih
Fenomena ini dinilai menjadi sinyal bahwa pengaruh Jokowi dalam peta politik nasional mulai mengalami penurunan dibanding masa kejayaannya pada awal kepemimpinan nasional satu dekade lalu.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: