Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Masih Terjebak Fase Bearish, Ini Rekomendasi Saham dari Analis

IHSG Masih Terjebak Fase Bearish, Ini Rekomendasi Saham dari Analis Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diprediksi masih berada dalam fase bearish dengan support berikutnya berada di area 6.640 hingga 6.538. Walaupun indikator mulai menunjukkan tanda awal bearish exhaustion, konfirmasi reversal masih belum terbentuk sehingga strategi defensif tetap menjadi pendekatan yang paling relevan dalam jangka pendek.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, mengatakan untuk pekan 18-22 Mei 2026, fokus pasar masih akan tertuju pada implementasi MSCI Rebalancing menjelang effective date 29 Mei 2026. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, terutama pada sesi closing auction yang biasanya menjadi titik utama penyesuaian portofolio passive funds global.

"Namun menariknya, di balik potensi outflow tersebut, terdapat peluang rotasi inflow menuju saham-saham yang diperkirakan mengalami peningkatan bobot indeks seperti BMRI, BRMS, PGAS, ADRO, INDF, hingga MTEL dan TOWR," kata dia dalam analisanya Senin (18/5/2026).

Selain itu, pasar juga mulai mengantisipasi potensi upgrade Korea Selatan dari Emerging Market menjadi Developed Market oleh MSCI, yang dalam jangka menengah dapat membuka peluang reallocation flow ke pasar emerging termasuk Indonesia.

“IPOT melihat tekanan pasar saat ini lebih mencerminkan faktor teknikal dan mekanisme global rebalancing dibanding deteriorasi fundamental ekonomi domestik secara struktural. Dengan pertumbuhan GDP Indonesia kuartal I-2026 yang tetap solid di level 5,61%, pasar domestik sebenarnya masih memiliki fondasi fundamental yang cukup resilien," ungkap dia.

Namun hingga arus dana asing mulai stabil pasca effective date MSCI, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi dan menuntut investor untuk lebih disiplin dalam mengelola risiko dan posisi trading.

Berikut rekomendasi IPOT trading saham pada emiten-emiten ini:

- Buy BUMI (Entry: 214, Target Price (TP): 242, Stop Loss (SL): <200).

Bumi Resources direkomendasikan sebagai trading proxy utama untuk memanfaatkan momentum bullish harga batubara dan potensi technical rebound pasca tekanan MSCI rebalancing, mengingat BUMI berpotensi memperoleh rotasi inflow seiring kemungkinan peningkatan bobot indeks serta didukung sensitivitas tinggi terhadap kenaikan harga energi global di tengah krisis distribusi energi dunia.

- Buy MINA (Entry: 384, Target Price (TP): 384, Stop Loss (SL): <342). 

Sanurhasta Mitra (MINA) menarik seiring berlanjutnya pertumbuhan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia yang naik 10,5% YoY pada Maret 2026 dan mencapai 3,44 juta wisatawan sepanjang kuartal I-2026. Peningkatan arus turis, khususnya dari Malaysia, Australia, dan China, berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor hospitality dan lifestyle consumption yang menjadi salah satu eksposur bisnis MINA, sehingga membuka peluang peningkatan permintaan domestik maupun recurring revenue perseroan di tengah pemulihan aktivitas pariwisata nasional.

- Buy RMKE (Entry: 3300, Target Price (TP): 3650, Stop Loss (SL): <3110). 

RMK Energy menarik dicermati sebagai beneficiary dari implementasi Peraturan Gubernur Sumatera yang mewajibkan distribusi batu bara menggunakan jalur hauling khusus dan kereta api, bukan lagi jalan umum. Regulasi ini secara struktural memperkuat positioning RMKE karena perseroan telah memiliki ekosistem logistik batu bara terintegrasi mulai dari hauling road, stasiun muat kereta api, hingga pelabuhan, sehingga berpotensi meningkatkan utilisasi volume dan memperkuat barrier to entry di tengah kebutuhan efisiensi distribusi batu bara nasional.

- Buy Reksa Dana Saham ETF Consumer Indonesia (XIIC) (Entry: 806, Target Price (TP): 854, Stop Loss (SL): <783). 

Produk ETF XIIC terdiversifikasi pada saham-saham consumer dan domestik-driven yang menjadi backbone perputaran ekonomi. XIIC mulai menunjukkan indikasi technical base formation setelah bergerak sideways dalam beberapa pekan terakhir. Area ini terlihat cukup solid menahan tekanan jual pasca koreksi tajam sejak Maret, sehingga membuka peluang terbentuknya fase akumulasi baru apabila market mulai stabil. Dari sisi momentum, MACD juga mulai membentuk bullish divergence, dimana garis MACD membentuk higher low secara bertahap sedangkan harga cenderung flat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Disclaimer: Keputusan untuk melakukan aksi jual atau beli saham sepenuhnya ada di tangan pembaca. Segala risiko kerugian dari setiap keputusan investasi yang diambil menjadi tanggung jawab pembaca.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra