Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Mobil Listrik di China Mulai Naik, Ini Penyebabnya

Harga Mobil Listrik di China Mulai Naik, Ini Penyebabnya Kredit Foto: Unsplash/Waldemar Brandt
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pasar kendaraan elektrifikasi atau new energy vehicle (NEV) di China mulai memasuki babak baru. Setelah sempat diramaikan perang harga dalam beberapa tahun terakhir, kini sejumlah produsen mobil mulai menaikkan harga jual akibat melonjaknya biaya produksi.

Dikutip dari CarNewsChina, lebih dari 15 pabrikan otomotif di China dilaporkan sudah melakukan penyesuaian harga, baik untuk kendaraan maupun fitur tambahan. Kenaikan biaya rantai pasok disebut menjadi faktor utama di balik langkah tersebut.

Beberapa merek besar seperti BYD, Xiaomi, hingga merek joint venture mulai merasakan tekanan dari meningkatnya harga bahan baku baterai dan cip memori otomotif.

Salah satu contohnya dilakukan BYD yang menaikkan harga paket ADAS “God’s Eye B” berbasis LiDAR untuk lini Dynasty, Ocean, dan Fangchengbao mulai 1 Mei 2026. Harga opsi tersebut naik dari 9.900 yuan atau sekitar Rp 22,5 juta menjadi 12.000 yuan, setara Rp 27,3 juta.

Langkah serupa juga diambil GAC Aion. Model Aion Y Younger dan Aion S Plus kini dibanderol lebih mahal sekitar 3.000 yuan hingga 6.000 yuan, atau setara Rp 6,8 juta sampai Rp 13,6 juta.

Tekanan biaya produksi juga mulai dirasakan merek global. Seri ID. milik Volkswagen dikabarkan mengalami penyesuaian harga hingga 7.000 yuan atau sekitar Rp 15,9 juta. Sementara Toyota menaikkan harga bZ4X sekitar 6.000 yuan atau setara Rp 13,6 juta.

Baca Juga: Untuk Pertama Kalinya, Penjualan Mobil Bensin Anjlok Parah, Mobil Listrik Penjualannya Melesat

Selain itu, mobil listrik Xiaomi SU7 juga mengalami kenaikan harga. Seluruh variannya, mulai Standard, Pro, hingga Max, naik sekitar 4.000 yuan atau sekitar Rp 9 juta.

Kenaikan harga ini dipicu lonjakan biaya bahan baku baterai, terutama lithium carbonate. Jika pada Juli 2025 harga material tersebut masih berada di kisaran 75.000 yuan per ton atau sekitar Rp 170 juta, kini nilainya mendekati 200.000 yuan per ton, setara Rp 455 juta.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman