Kredit Foto: Youtube: Bank Indonesia
Pegiat media sosial Zulfery Yusal Koto atau akrab disapa Ferry Koto menegaskan peran penting Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam menjaga stabilitas rupiah.
Di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh Rp17.720 per dolar AS, Ferry menilai tanpa intervensi Perry Warjiyo, rupiah bisa jatuh lebih dalam hingga Rp19.000.
Hal tersebut disampaikan Ferry Koto merespons desakan Anggota Komisi XI DPR dari Partai Amanat Nasional (PAN), Primus Yustisio, yang meminta Perry Warjiyo mundur dari jabatannya.
“Orang bahlul, dipikir BI yang sebabkan rupiah melemah. Kalau tekanan ke rupiah terjadi, BI itu justru menjaga agar tidak ambrol. Kalau Pak Perry ndak kerja, sudah dari kemarin-kemarin rupiah ambrol ke Rp18–19 ribu,” tulis Ferry Koto di akun X pribadinya, Selasa (19/5).
Ia menambahkan, BI telah melakukan berbagai langkah strategis untuk menahan pelemahan rupiah. “BI sudah intervensi lebih dari 10 miliar dolar, sudah terbitkan SRBI dan SVBI untuk menarik dolar dan menahan laju jatuh rupiah. Tapi faktanya rupiah tetap tertekan,” jelasnya.
Sebelumnya, Primus Yustisio mendesak Perry Warjiyo mundur saat rapat kerja Komisi XI DPR dengan jajaran BI di Jakarta, Senin (18/5/2026). Menurutnya, mundurnya Perry merupakan bentuk tanggung jawab atas melemahnya rupiah.
“Pak Perry yang saya hormati, kadang Pak, kalau kita mengambil tindakan gentleman, itu bukan penghinaan, Pak. Mungkin sudah saatnya Bapak mengundurkan diri. Tidak ada salah, selanjutnya terserah Bapak tentu saja,” ucapnya.
Primus menilai langkah tersebut akan lebih dihormati publik, sebagaimana tradisi di Korea dan Jepang. “Kalau Anda tidak bisa melakukan tugas dengan baik, mungkin sudah saatnya mengundurkan diri,” ujarnya.
Baca Juga: Viral Rupiah Diprediksi Sentuh Rp17.845 di 17 Agustus, Makin Dihajar Dolar
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Bergerak Kisaran Rp17.600-Rp17.700, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga BI
Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% secara tahunan, rupiah tetap melemah hingga menyentuh rekor terendah terhadap dolar AS. “Bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar AS,” kata dia.
Selain dolar AS, indeks rupiah juga menunjukkan tekanan terhadap mata uang negara lain. “Ini yang menurut saya harus tajam dipertanyakan, di pertemuan terakhir saya pertanyakan (rupiah) di Rp 16.800 (per US$) kenapa rupiah kita ini lemah. Kalau dibandingkan, dan ironisnya, (melemah) terhadap semua mata uang,” ujar dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: