Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Disebut Prabowo, Impor Es Batu Pernah Bingungkan Bea Cukai dan jadi Potensi Bisnis Besar di Era Hindia Belanda

Disebut Prabowo, Impor Es Batu Pernah Bingungkan Bea Cukai dan jadi Potensi Bisnis Besar di Era Hindia Belanda Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dalam pidatonya di Rapat Paripurna DPR RI ke-19 Terkait KEM dan PPKF RAPBN 2027, Presiden Prabowo Subianto sempat menyinggung pembangunan fasilitas es batu untuk desa-desa nelayan. Hal ini, dimaksudkan agar nelayan dapat mengirimkan hasil tangkapan secara lebih baik. 

Menyadari masih sulitnya nelayan dalam mendapat es batu menjadi ironi tersendiri dalam industri pangan dalam negeri. Apalagi, dalam sejarahnya, es batu pernah menjadi komoditas yang diperjualbelikan secara potensial, yaitu ketika es batu pertama kali masuk ke Indonesia.

Pada 18 November 1846, surat kabar Javasche Courant memberitakan bahwa sebuah kapal besar dari Boston, Amerika Serikat, tiba pada 17 November 1846 membawa es pesanan Roselie en Co. 

Kabar ini pun heboh hingga menyebar ke Benteng Batavia. Ketika itu, es batu menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati keluarga Belanda di kawasan Meester (kini Jatinegara) dan Weltevreden (kini Sawah Besar) sebagai pelengkap minum bir.

Sebagai barang baru, pihak Bea Cukai pun menjadi bingung karena belum menyiapkan aturan mengenai impor es batu. Namun, tak lama setelah itu komoditas tersebut bisa masuk bebas dan bahkan muncul iklan dari Roselie en Co yang menjual es dengan harga 10 sen setiap 500 gram. 

Masuknya es ke Indonesia saat itu langsung dilihat sebagai peluang bisnis. Beberapa restoran mulai menyediakan sajian minuman air dengan es. 

Selain itu, es dianggap sebagai barang impor berharga dari Amerika, sehingga penyimpanannya harus diperhatikan agar tidak mencair. Saat itu, surat kabar Javasche Courant menayangkan artikel bahwa selimut wol dapat digunakan untuk menyimpan es.

Perusahaan Djakarta Firms Voute en Gherin pun memanfaatkan situasi dengan menjual selimut wol untuk menyimpan es. Melansir National Geographic Indonesia, ketika itu pengusaha David Gilet juga mengambil peluang dengan menjual air es untuk pesta dengan biaya 15 gulden.

Bisnis es batu semakin berantai ketika diketahui bahwa es dapat menjadi obat sariawan. Untuk memacu ini, Pemerintah Hindia Belanda memberikan bonus sebesar 6.000 gulden bagi pengusaha yang dapat mengirimkan es batu ke rumah sakit di Batavia, untuk mengobati tentara Belanda yang terkena sariawan. Untuk Surabaya dan Semarang, bonus yang diberikan lebi besar yaitu sebesar 7.300 gulden.

Impor es dari Amerika ke Hindia Belanda terus berlangsung sampai tahun 1870. Setelah itu, es tidak lagi diimpor karena sudah berdiri pabrik es pertama di Batavia. 

Baca Juga: Targetkan Kemandirian Teknologi, Prabowo Desak Indonesia Bisa Produksi Mobil dan HP Sendiri

Sepuluh tahun kemudian, pabrik es semakin banyak bermunculan di berbagai daerah. Di Batavia sendiri, pabrik es berdiri di Molenvliet (kini Jalan Gadjah Mada dan Jalan Hayam Wuruk) dan kawasan Petojo.

Pada 1895, Kwa Wan Hong, seorang pengusaha Tionghoa kelahiran Semarang, mendirikan pabrik es batu di Semarang. Es batu pun mulai menyebar ke berbagai daerah. Sayangnya, hingga kini es batu justru masih sulit didapatkan secara murah di berbagai daerah yang membutuhkan es sebagai pendukung usaha. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat