Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Temui Xi Jinping di Beijing, Vladimir Putin Bahas Kerja Sama Energi dan Isu Global

Temui Xi Jinping di Beijing, Vladimir Putin Bahas Kerja Sama Energi dan Isu Global Kredit Foto: Reuters/Sputnik/Sergei Karpukhin
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Rusia Vladimir Putin berangkat menuju Beijing pada Selasa, 19 Mei 2026. Keberangkatan tersebut dilakukan untuk melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Cina Xi Jinping.

Penasihat kebijakan luar negeri Rusia, Yuri Ushakov, menyatakan kedua kepala negara dijadwalkan menjalani agenda yang cukup padat. Setelah acara penyambutan pada Rabu, 20 Mei 2026 pagi, Putin dan Xi menggelar pembicaraan di Great Hall of the People sebelum menyampaikan pernyataan kepada media.

Putin juga dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Cina, Li Qiang. Pertemuan dengan Li Qiang tersebut ditujukan khusus untuk membahas penguatan kerja sama ekonomi kedua negara.

Pada malam harinya, Presiden Xi Jinping akan menggelar jamuan kenegaraan bagi sang tamu. Jamuan ini sekaligus untuk menandai 25 tahun perjanjian persahabatan bilateral antara Rusia dan Cina.

Kedua pemimpin juga diagendakan untuk mengunjungi sebuah pameran foto bersama. Pameran tersebut digelar guna memperingati 70 tahun kerja sama antara kantor berita negara Rusia TASS dan kantor berita Cina Xinhua.

Rangkaian kunjungan resmi itu nantinya akan ditutup dengan acara minum teh bersama antara Putin dan Xi. Sesi santai ini menjadi momentum bagi kedua pemimpin untuk melakukan pembicaraan yang lebih mendalam.

Menurut keterangan Ushakov, pembicaraan pada sesi tersebut akan berfokus pada dinamika politik global. Isu utama yang dibahas meliputi konflik Iran, perang Ukraina, serta berbagai isu internasional penting lainnya.

Sektor hubungan energi antara kedua negara diperkirakan menjadi salah satu topik paling krusial dalam pembahasan tersebut. Kerja sama di bidang ini terus menguat dalam beberapa tahun terakhir.

Cina diketahui terus meningkatkan volume pembelian komoditas minyak dan gas dari Rusia sejak pecahnya konflik Ukraina pada tahun 2022. Moskow dan Beijing sendiri telah mendeklarasikan kemitraan “tanpa batas” beberapa hari sebelum perang tersebut dimulai.

Raksasa energi Rusia, Gazprom, saat ini aktif memasok gas alam ke Cina melalui pipa sepanjang 3.000 kilometer bernama Power of Siberia. Penyaluran ini merupakan bagian dari kesepakatan jangka panjang selama 30 tahun senilai US$400 miliar yang dimulai sejak 2019.

Negeri Tirai Bambu juga menempatkan diri sebagai pelanggan utama bagi komoditas pengiriman minyak mentah dari Rusia. Jalur distribusi pasokan energi tersebut dilakukan baik melalui rute laut maupun jaringan pipa darat.

Ekspor energi dari Rusia ke Cina tetap bertahan tinggi hingga saat ini. Kondisi tersebut terjadi di tengah gelombang sanksi ekonomi dari negara-negara Barat terhadap Rusia akibat perang di Ukraina.

Berdasarkan data Administrasi Umum Bea Cukai Cina, impor minyak Cina dari Rusia mencapai 100,72 juta metrik ton sepanjang tahun 2025. Jumlah pasokan tersebut setara dengan 20 persen dari total volume impor minyak nasional Cina.

Baca Juga: Ini Alasan Putin Dijadwalkan Datang ke Cina Setelah Trump

Tren kenaikan pasokan komoditas strategis ini dilaporkan masih terus berlanjut hingga periode tahun berjalan. Kondisi pertumbuhan ini ditegaskan langsung oleh pihak penasihat kebijakan luar negeri Kremlin.

Ushakov mengatakan ekspor minyak Rusia ke Cina naik hingga 35 persen pada kuartal pertama tahun 2026. Volume pengapalan minyak pada tiga bulan pertama tersebut telah menyentuh angka 31 juta ton.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy

Tag Terkait: