Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Tidak Diajak! Putin dan Xi Jinping Sepakat Tinggalkan Dominasi Dolar AS

Trump Tidak Diajak! Putin dan Xi Jinping Sepakat Tinggalkan Dominasi Dolar AS Kredit Foto: Reuters/Sputnik/Sergey Bobylev
Warta Ekonomi, Jakarta -

Hubungan Rusia dan China semakin erat setelah kedua negara mulai meninggalkan dominasi dolar AS dalam transaksi perdagangan bilateral mereka. Presiden Vladimir Putin bahkan menyebut hampir seluruh aktivitas ekspor-impor Rusia dan China kini sudah menggunakan rubel dan yuan.

Kesepakatan besar itu diumumkan usai pertemuan Putin dengan Presiden Xi Jinping di Beijing, Rabu (20/5). Dalam pertemuan tersebut, Rusia dan China juga menandatangani 20 dokumen kerja sama di berbagai sektor strategis.

Kerja sama yang diteken mencakup bidang ekonomi, energi, transportasi, hingga hubungan internasional. Selain itu, kedua negara turut mengadopsi deklarasi bersama mengenai penguatan kemitraan strategis dan pembentukan dunia multipolar.

Langkah Rusia dan China menggunakan mata uang nasional dinilai menjadi sinyal kuat semakin berkurangnya ketergantungan kedua negara terhadap dolar AS. Di tengah tekanan geopolitik global dan sanksi Barat terhadap Moskow, Beijing dan Moskow justru memperdalam hubungan ekonomi mereka.

Kunjungan Putin ke Beijing juga menjadi perhatian internasional karena berlangsung hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyelesaikan lawatan kenegaraannya ke China. Situasi tersebut dinilai memperlihatkan strategi geopolitik Xi Jinping dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan Washington sekaligus memperkuat kemitraan strategis bersama Rusia.

Dalam konferensi pers setelah pertemuan bilateral, Putin mengatakan Rusia dan China kini telah membangun sistem perdagangan yang lebih stabil dan terlindungi dari tekanan eksternal. Menurutnya, penggunaan rubel dan yuan membuat hubungan dagang kedua negara lebih aman dari gejolak global.

“Langkah-langkah terkoordinasi yang diambil Rusia dan China untuk menggunakan mata uang nasional dalam transaksi bilateral sangat penting,” kata Putin di Beijing.

Ia menegaskan hampir seluruh transaksi ekspor dan impor Rusia-China kini dilakukan menggunakan rubel dan yuan. Putin menilai langkah tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas hubungan ekonomi kedua negara di tengah ketidakpastian global.

Selain isu perdagangan dan mata uang, Putin juga memastikan Rusia siap melanjutkan pasokan energi ke China tanpa gangguan. Pasokan minyak dan gas disebut tetap menjadi bagian penting dalam hubungan strategis kedua negara.

Kerja sama energi Rusia-China juga diperluas ke sektor nuklir. Putin mengatakan perusahaan nuklir Rusia, Rosatom, saat ini tengah menyelesaikan pembangunan unit baru pembangkit listrik tenaga nuklir di China.

Di bidang geopolitik, Putin menggambarkan hubungan Rusia dan China sebagai faktor penstabil dalam situasi internasional yang penuh ketidakpastian. Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya tensi global dan rivalitas kekuatan besar dunia.

Baca Juga: Ini Alasan Putin Dijadwalkan Datang ke Cina Setelah Trump

Tak hanya fokus pada ekonomi dan energi, kedua negara juga memperkuat hubungan antarwarga melalui kebijakan bebas visa bilateral. Kebijakan tersebut disebut mendorong lonjakan jumlah wisatawan antara Rusia dan China sepanjang 2025.

Putin mengungkapkan lebih dari dua juta warga Rusia telah berkunjung ke China sepanjang tahun ini. Sementara lebih dari satu juta warga China disebut telah datang ke Rusia.

Pertemuan Putin dan Xi Jinping di Beijing pun dinilai menjadi sinyal semakin solidnya aliansi strategis kedua negara. Di tengah tekanan Barat dan ketidakpastian ekonomi global, Rusia dan China justru mempercepat pembentukan kerja sama baru yang semakin luas dan mendalam.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama