Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Toyota Belum Mau Naikkan Harga Meski Dolar AS Melambung Tinggi

Toyota Belum Mau Naikkan Harga Meski Dolar AS Melambung Tinggi Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh kisaran Rp17.685 mulai menjadi perhatian pelaku industri otomotif nasional. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran akan potensi kenaikan harga mobil di Indonesia.

Namun, PT Toyota Astra Motor (TAM) memastikan belum ingin buru-buru menyesuaikan harga kendaraan. Produsen otomotif asal Jepang itu mengaku masih berusaha menahan dampak pelemahan kurs agar tidak langsung dirasakan konsumen.

Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor, Bansar Maduma, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan nilai tukar dolar terhadap rupiah. Menurut dia, Toyota berupaya agar kenaikan biaya akibat kurs tidak sepenuhnya dibebankan kepada pelanggan.

“Di kondisi saat ini, seperti diketahui bahwa dolar sudah sangat tinggi. Namun yang pasti kami selalu monitor. Kami tidak mau bahwa ini semua dibebankan oleh customer, jadi kita terus monitor,” kata Bansar.

Sikap tersebut menunjukkan Toyota masih memilih menjaga stabilitas pasar dibanding langsung menaikkan banderol kendaraan.

Baca Juga: Gandeng CATL dengan Investasi Rp1,3 Triliun, Toyota Siap Produksi Baterai Mobil Hybrid di Indonesia

Tekanan dari penguatan dolar memang cukup besar bagi industri otomotif. Meski banyak model Toyota diproduksi di dalam negeri dengan kandungan lokal tinggi, masih ada sejumlah komponen dan material yang didatangkan dari luar negeri.

Ketika kurs dolar naik, biaya pengadaan komponen impor otomatis ikut meningkat. Situasi itu akhirnya berpengaruh terhadap total ongkos produksi kendaraan.

Tidak hanya itu, industri otomotif juga memiliki rantai pasok global yang saling terhubung. Artinya, dampak kurs tetap dirasakan walaupun proses perakitan kendaraan dilakukan di Indonesia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman