Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Bansar menjelaskan Toyota juga terus berkoordinasi dengan seluruh jaringan industri untuk menghadapi kondisi tersebut. Mulai dari supplier, manufaktur, hingga prinsipal global Toyota disebut ikut mencari solusi bersama.
“Khususnya kalau misalkan kenaikan dolar, pastinya kita akan bekerjasama dengan Toyota Group. Kita bukan hanya kami sebagai distributor, tapi juga kami disupport oleh manufacturer dan juga supplier,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses produksi kendaraan melibatkan banyak lapisan industri, mulai dari supplier Tier 3, Tier 2, Tier 1, manufaktur, distributor, sampai dealer. Karena itu, strategi menghadapi pelemahan rupiah harus dilakukan secara menyeluruh.
Toyota juga menilai menjaga harga tetap kompetitif penting untuk mempertahankan kepercayaan konsumen. Sebab, kenaikan harga mobil yang terlalu tinggi berisiko membuat masyarakat menunda pembelian kendaraan baru.
Baca Juga: Cetak Rekor Baru, Penjualan Global Toyota Tembus 10,48 Juta Unit pada Tahun 2025
“Kita akan semaksimal mungkin, untuk bisa mengurangi impact yang terjadi di customer. Sehingga customer juga lebih trust kepada merek Toyota, dan tidak akan meninggalkan mereka,” kata Bansar.
Meski demikian, peluang penyesuaian harga kendaraan tetap ada apabila tekanan kurs berlangsung dalam waktu lama. Jika biaya produksi terus meningkat, produsen kemungkinan akan melakukan penyesuaian secara bertahap sesuai kondisi pasar dan model kendaraan yang terdampak.
Untuk saat ini, Toyota memilih fokus menjaga daya beli konsumen sambil mencari cara agar dampak penguatan dolar tidak terlalu besar terhadap harga mobil di Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: