Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kesepakatan Damai AS-Iran Hampir Rampung, Selat Hormuz Siap Dibuka Kembali

Kesepakatan Damai AS-Iran Hampir Rampung, Selat Hormuz Siap Dibuka Kembali Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kesepakatan besar antara Amerika Serikat dan Iran disebut tinggal selangkah lagi tercapai setelah kedua negara dikabarkan menyusun perpanjangan gencatan senjata sekaligus membuka kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Langkah ini dinilai menjadi sinyal kuat meredanya ketegangan geopolitik Timur Tengah usai konflik panas sejak Februari 2026.

Laporan Axios menyebut Washington dan Teheran tengah menyiapkan nota kesepahaman yang akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan itu juga akan membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup Iran selama perang berlangsung.

Jika terealisasi, Iran akan membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz dan mengizinkan kapal internasional melintas tanpa pungutan tambahan. Sebagai imbalan, Amerika Serikat disebut siap melonggarkan sebagian sanksi ekonomi terhadap Teheran.

Kebijakan itu membuka peluang Iran kembali menjual minyak secara bebas selama masa gencatan senjata berlangsung. Langkah tersebut diprediksi dapat mengguncang kembali pasar energi global karena pasokan minyak Iran mulai masuk ke pasar internasional.

Seorang pejabat Amerika Serikat yang dikutip Axios menyebut skema tersebut sebagai “bantuan berbasis kinerja”. Artinya, pelonggaran ekonomi hanya akan diberikan jika Iran menjalankan seluruh poin kesepakatan secara konkret.

Kesepakatan ini juga menyentuh isu paling sensitif yakni program nuklir Iran. Teheran disebut bersedia menegosiasikan penghentian pengayaan uranium dan pemindahan stok uranium berkadar tinggi.

Namun, seluruh kesepakatan itu masih menunggu persetujuan akhir Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Media New York Times melaporkan proses finalisasi tersebut bisa memakan waktu beberapa hari ke depan.

Situasi ini menjadi perkembangan penting setelah ketegangan Timur Tengah memuncak akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari 2026. Iran kemudian membalas dengan menyerang kepentingan Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk.

Penutupan Selat Hormuz sempat memicu kekhawatiran global karena jalur itu menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut membuat harga energi internasional sempat melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Kini, peluang dibukanya kembali Selat Hormuz dianggap sebagai kabar positif bagi stabilitas ekonomi global. Pasar internasional menilai langkah diplomatik ini dapat meredakan ancaman krisis energi berkepanjangan.

Dalam draf kesepakatan itu, pasukan Amerika Serikat disebut masih akan tetap berada di kawasan Timur Tengah selama masa perpanjangan gencatan senjata. Penarikan pasukan baru akan dilakukan apabila kesepakatan permanen berhasil dicapai kedua pihak.

Kesepakatan tersebut juga berkaitan dengan upaya meredakan konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Amerika Serikat disebut tetap memberi ruang bagi Israel untuk bertindak jika Hizbullah kembali memperkuat persenjataannya.

Sejumlah negara Arab dan Muslim dilaporkan ikut mendukung jalur diplomasi tersebut. Arab Saudi, Qatar, Mesir, Turki, Uni Emirat Arab hingga Pakistan disebut aktif mendorong tercapainya perdamaian.

Baca Juga: Iran Dinilai Tak Mungkin Serahkan Uranium ke AS

Pakistan bahkan disebut memainkan peran penting sebagai mediator dalam komunikasi antara Washington dan Teheran. Peran Islamabad dianggap krusial dalam menjaga jalur negosiasi tetap terbuka di tengah situasi yang sangat sensitif.

Meski demikian, sumber pejabat Amerika Serikat mengingatkan bahwa kesepakatan tersebut masih berpotensi gagal sebelum resmi ditandatangani. Ketidakpercayaan panjang antara Iran dan Amerika Serikat dinilai tetap menjadi hambatan terbesar dalam proses damai itu.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama