Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Iran Anggap Trump Banyak Omong Kosong, Ancaman Serangan Besar Dinilai Sekadar Drama

Iran Anggap Trump Banyak Omong Kosong, Ancaman Serangan Besar Dinilai Sekadar Drama Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Iran melontarkan kritik keras kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Teheran menuding Trump menjalankan "diplomasi teater" karena berulang kali mengancam akan menyerang Iran, tetapi kemudian membatalkan ancaman tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Parlemen Iran yang juga menjabat kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, melalui unggahan di media sosial pada Kamis (6/8/2026).

Menurut Ghalibaf, pola yang dilakukan Amerika Serikat dengan berganti dari ancaman militer ke tawaran negosiasi merupakan strategi lama yang dinilai sudah tidak efektif.

"Serangan besar-besaran akan datang... tunggu, sudahlah, mereka ingin bernegosiasi," kata Ghalibaf menirukan pernyataan Trump.

"Itu adalah diplomasi teater yang terus berulang. Menggunakan penindasan + ingkar janji + berita palsu sebagai pengaruh adalah strategi yang gagal," imbuhnya.

Ghalibaf juga mendesak Washington agar mengakui kenyataan di lapangan dan memenuhi komitmen yang telah disepakati dalam proses diplomatik.

Sebelumnya, pada Sabtu (1/8), Trump membatalkan rencana serangan militer besar terhadap Iran. Ia mengklaim keputusan itu diambil setelah Iran dan sejumlah negara di kawasan meminta agar serangan dibatalkan karena proses diplomasi disebut telah mengalami kemajuan.

Trump juga menyatakan kesepakatan tersebut akan membuka kembali Selat Hormuz secara penuh sekaligus mengakhiri ancaman program nuklir Iran.

Di sisi lain, Iran mengonfirmasi telah menggelar pembicaraan dengan Oman terkait pengaturan Selat Hormuz. Teheran menyebut kesepakatan mengenai koordinat jalur pelayaran sudah mendekati tahap akhir.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi dunia. Jalur itu kembali menjadi sorotan setelah perang regional pecah menyusul serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada akhir Februari.

Baca Juga: Trump: Saya Lebih Pilih Kesepakatan dengan Iran daripada Perang

Ketegangan di kawasan tersebut sempat memicu lonjakan harga minyak dunia. Trump sebelumnya mengatakan konflik dengan Iran diyakini akan segera berakhir sehingga harga minyak dan bensin diperkirakan ikut turun.

"Saya pikir ini akan segera berakhir. Saya rasa ini tidak akan berlangsung lebih lama lagi. Saya pikir kami baik-baik saja," ujar Trump.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy

Tag Terkait: