Kredit Foto: VinFast
Strategi Pangkas Beban Finansial
Langkah restrukturisasi ini dinilai dapat membantu VinFast mengurangi tekanan finansial, terutama setelah perusahaan mencatat kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir akibat tingginya biaya produksi dan ekspansi.
Tak hanya itu, restrukturisasi bisnis tersebut juga mencakup pengalihan utang sekitar US$ 6,9 miliar atau setara Rp 122,1 triliun kepada entitas baru yang akan mengambil alih bisnis manufaktur.
Melalui skema tersebut, VinFast berharap bisa bergerak lebih fleksibel di tengah persaingan industri kendaraan listrik global yang semakin ketat.
Baca Juga: Resmi Masuk Indonesia, VinFast Buka Pemesanan 3 Motor Listrik Baru
Namun, langkah ini juga memunculkan perhatian sejumlah analis terkait kompleksitas transaksi serta keterlibatan pihak-pihak yang masih memiliki hubungan dengan grup usaha Vingroup.
Meski demikian, sebagian investor menilai restrukturisasi tersebut dapat menjadi fondasi penting bagi VinFast untuk mempercepat jalan menuju profitabilitas sekaligus memperkuat ekspansi globalnya di masa depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: