Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

B57+ Indonesia Dorong Ekspor Halal Jadi Ruang Pertumbuhan Baru di Tengah Tekanan Ekonomi

B57+ Indonesia Dorong Ekspor Halal Jadi Ruang Pertumbuhan Baru di Tengah Tekanan Ekonomi Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah tekanan nilai tukar rupiah, ketidakpastian global, dan kebutuhan memperkuat kinerja ekspor nasional, B57+ Indonesia menilai penguatan ekspor produk halal dapat menjadi salah satu ruang pertumbuhan baru bagi Indonesia.

Sekretaris Jenderal B57+ Indonesia, Eka Sastra, mengatakan bahwa industri halal perlu dipandang sebagai strategi daya saing untuk mendorong produk Indonesia naik kelas di pasar global, terutama ketika ekonomi nasional membutuhkan sumber pertumbuhan yang lebih beragam dan bernilai tambah.

“Pelemahan rupiah tentu perlu dicermati secara serius karena berdampak pada biaya impor, pembiayaan, dan persepsi investor. Namun, situasi ini juga mengingatkan kita bahwa Indonesia perlu memperkuat ekspor bernilai tambah, termasuk produk halal, agar tidak terlalu bergantung pada komoditas mentah,” ujar Eka.

Menurutnya, ekspor halal dapat menjadi bagian penting dari strategi diversifikasi ekspor nasional. Produk makanan dan minuman, kosmetik, farmasi, fesyen, barang gunaan, kerajinan, hingga pariwisata ramah Muslim memiliki peluang besar apabila didukung oleh standar, sertifikasi, kapasitas produksi, pembiayaan, serta akses pasar yang memadai.

“Produk halal hari ini tidak hanya berbicara tentang kepatuhan syariah, tetapi juga tentang kualitas, kebersihan, keamanan, dan kepercayaan. Ini bisa menjadi nilai tambah bagi produk Indonesia untuk masuk ke pasar global,” katanya.

Baca Juga: Kawasan Hunian Terintegrasi Kian Diminati Generasi Muda

Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, di Jakarta, Jumat (15/5/2026), yang menegaskan bahwa penguatan ekosistem industri halal merupakan bagian penting dari transformasi industri nasional menuju sektor manufaktur yang berdaya saing tinggi, inklusif, dan berkelanjutan.

“Penguatan industri halal tidak hanya menjawab kebutuhan pasar domestik yang besar, tetapi juga membuka peluang ekspor yang semakin luas,” ungkap Menperin.

Eka menilai peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila Indonesia mampu memperkuat ekosistem halal dari hulu hingga hilir. Pelaku usaha, khususnya usaha kecil dan menengah (UKM), perlu mendapat dukungan dalam proses sertifikasi, standardisasi, kemasan, pembiayaan, logistik, kurasi produk, hingga koneksi dengan pembeli internasional.

“Kalau bicara ekspor halal, kuncinya bukan hanya promosi. Pelaku usaha perlu dibantu agar produknya siap secara standar, siap secara kapasitas, dan siap masuk ke pasar luar negeri,” ujar Eka.

Ia menambahkan, B57+ Indonesia terus berupaya memperkuat perannya sebagai platform kolaborasi yang menghubungkan pelaku usaha Indonesia dengan jejaring bisnis global. Melalui pendekatan tersebut, B57+ Indonesia ingin membuka ruang kerja sama yang lebih konkret, baik dalam bentuk perdagangan, investasi, maupun pengembangan kapasitas usaha di sektor makanan halal, keuangan syariah, logistik, ekonomi digital, pariwisata, serta UKM.

“Optimisme ekonomi perlu dibangun dari sektor konkret yang bisa digerakkan. Ekonomi halal memberi ruang itu karena berkaitan langsung dengan industri, usaha kecil dan menengah, lapangan kerja, ekspor, dan reputasi Indonesia di pasar global,” tutup Eka.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah

Tag Terkait: