Amerika Tuntut Semua Negara Muslim Normalisasi Hubungan dengan Israel usai Perang Iran
Kredit Foto: Istimewa
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai mendorong agenda geopolitik baru di Timur Tengah setelah konflik besar dengan Iran mereda.
Trump secara terbuka meminta sejumlah negara mayoritas Muslim untuk segera menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel melalui kesepakatan Abraham Accords.
Baca Juga: Iran Dijanjikan US$12 Miliar Asal Damai dengan Amerika dan Israel? Begini Klarifikasi dari Qatar
Langkah itu menunjukkan bahwa Washington kini ingin mengubah momentum pascaperang Iran menjadi proyek diplomasi besar untuk membentuk tatanan baru Timur Tengah.
Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump mengaku telah berbicara langsung dengan para pemimpin Saudi Arabia, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Ia meminta negara-negara tersebut bergabung dalam Abraham Accords, yakni perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel yang pertama kali diperkenalkan pada masa jabatan pertamanya.
“Saya meminta seluruh negara segera menandatangani Abraham Accords,” tulis Trump.
Trump bahkan membuka kemungkinan Iran ikut bergabung apabila berhasil mencapai kesepakatan damai dengan Amerika Serikat.
Pernyataan itu memperlihatkan ambisi besar Trump untuk membangun koalisi politik baru di Timur Tengah setelah kawasan diguncang perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir.
Langkah Trump ini bukan sekadar soal perdamaian Israel dengan negara-negara Arab. Washington diduga ingin membangun blok keamanan regional baru untuk membatasi pengaruh Iran di Timur Tengah tanpa harus kembali terlibat perang terbuka.
Trump menyebut seluruh upaya diplomatik tersebut sebagai “puzzle kompleks” yang sedang disusun Amerika Serikat.
Namun upaya itu tidak berjalan mulus.
Dikutip dari CNN, Sumber pemerintah Saudi Arabia menegaskan posisi Riyadh belum berubah. Saudi disebut hanya akan membuka hubungan resmi dengan Israel apabila terdapat jalur yang tidak dapat dibatalkan menuju pembentukan negara Palestina.
Artinya, isu Palestina masih menjadi hambatan terbesar dalam proyek diplomasi Trump.
Sumber regional lainnya juga menyebut beberapa negara sebenarnya terbuka untuk bergabung dalam Abraham Accords, tetapi dengan syarat Israel mengubah kebijakannya di Gaza, Tepi Barat dan Lebanon.
Pernyataan tersebut menunjukkan perang Iran justru membuka babak baru perebutan pengaruh diplomatik di Timur Tengah.
Baca Juga: Bukan 'Serangan Mendadak' Biasa, Ada Bau Operasi Intelijen di Balik Serangan Terbaru Amerika ke Iran
Jika sebelumnya kawasan dipenuhi konflik militer, kini pertarungan bergeser menjadi perebutan aliansi politik dan pengaruh strategis pascaperang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: