Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Komdigi Ingatkan Ancaman Hoaks dan AI Makin Sulit Dikenali Anak

Komdigi Ingatkan Ancaman Hoaks dan AI Makin Sulit Dikenali Anak Kredit Foto: Komdigi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital Boni Pudjianto mengingatkan ancaman hoaks, penipuan digital, hingga manipulasi informasi berbasis kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) semakin sulit dikenali sehingga guru dan orang tua perlu aktif mendampingi anak di ruang digital.

Menurut Boni, guru memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam membekali anak kemampuan membedakan informasi positif dan negatif di tengah maraknya konten menyesatkan di internet.

“Bapak/Ibu guru harus membagikan kepada anak didik mengenai bagaimana kita bisa membedakan hal-hal positif dan negatif, khususnya informasi yang tidak benar,” ujar Boni dalam acara Literasi Digital Hari Pendidikan Nasional di Garuda Spark Innovation Hub, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).

Ia menilai perkembangan teknologi digital, termasuk AI, membuat konten palsu dan manipulatif semakin mudah diproduksi serta sulit dikenali oleh anak-anak maupun masyarakat umum.

Karena itu, Boni menegaskan peran guru tidak lagi sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi pendamping sekaligus pembentuk karakter anak dalam menghadapi dinamika era digital.

“Guru menjadi pemegang kunci utama atau peran pokok yang sangat strategis. Guru bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, tapi juga pendamping dan pembentuk karakter anak dalam menghadapi dinamika di era digital,” katanya.

Baca Juga: Generasi Muda Hadirkan Solusi AI untuk Atasi Blackout di Desa Indonesia

Baca Juga: Pemerintah Bentuk Lembaga Khusus untuk Bagi Royalti Perusahaan AI dan Kreator Pemilik Hak Cipta

Baca Juga: Nezar Patria Tegaskan AI Tak Boleh Ancam Demokrasi

Boni berharap pendampingan guru dapat membangun budaya digital yang sehat, etis, dan bertanggung jawab demi menciptakan ruang digital yang aman dan inklusif bagi anak.

Ia juga menekankan inklusivitas digital bukan hanya soal menghadirkan akses internet, melainkan memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berekspresi, berpartisipasi, dan terlindungi di ruang digital.

Menurutnya, transformasi digital harus berjalan beriringan dengan upaya pelindungan anak melalui ruang digital yang ramah anak, inklusif, dan berkeadilan, sekaligus tetap menjunjung nilai empati dan kesetaraan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri