Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Seskab Teddy Jawab Kritikan Dino Patti Jalal soal Prabowo Kerap ke Luar Negeri, 'Kelebihan Anggaran Ditanggung Pribadi'

Seskab Teddy Jawab Kritikan Dino Patti Jalal soal Prabowo Kerap ke Luar Negeri, 'Kelebihan Anggaran Ditanggung Pribadi' Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya angkat bicara menanggapi kritik yang disampaikan oleh mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, terkait intensitas perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.

Teddy menegaskan bahwa diplomasi internasional yang dilakukan Presiden harus dilihat dari hasil nyata dan manfaat yang dibawa pulang untuk kepentingan bangsa, bukan sekadar frekuensi perjalanannya.

"Bicara diplomasi berarti bicara hasil, manfaat nyata bagi bangsa. Kritik dan masukan itu penting, ruangnya selalu terbuka. Tetapi jangan mengaburkan fakta dari mereka yang sedang bekerja dan berjuang membawa kepentingan bangsa di panggung dunia," ujar Teddy dalam keterangannya.

Satu per satu, Teddy menjawab kritikan dari Dino, Teddy mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo sudah melakukan pemangkasan besar-besaran terhadap jumlah rombongan yang ikut serta ke luar negeri.

"Jika pada periode-periode sebelumnya delegasi bisa mencapai 120 orang, kini jumlah tersebut dipotong hingga lebih dari separuhnya," kata Teddy dalam video resminya di akun Sekretaris Kabinet.

Selain itu, Teddy meluruskan bahwa kelebihan biaya operasional dari anggaran yang telah disediakan negara sepenuhnya ditanggung oleh kantong pribadi Presiden Prabowo.

Teddy juga menjelaskan bahwa keaktifan Presiden Prabowo di kancah internasional merupakan langkah strategis di tengah situasi dunia yang sedang dilanda krisis dan konflik, seperti ketegangan di Ukraina, Venezuela, hingga Timur Tengah. Menurutnya, hubungan emosional antar-pemimpin dunia harus dibangun sejak awal, bukan saat krisis sudah terjadi.

"Salah besar kalau (perjalanan ini-red) dinilai hanya untuk gagah-gagahan. Kita tidak bisa baru mendekat saat krisis terjadi. Diperlukan kedekatan pribadi dan emosional antar-pemimpin, itulah namanya diplomasi," jelas Teddy.

Ia juga menjawab agenda kunjungan luar negeri seharusnya telah dijadwalkan satu tahun sebelumnya.

"Presiden Prabowo itu adalah presiden baru menjabat satu setengah tahun, tapi terjadi konflik global, Ukraina, Venezuela dan Iran, Timur Tengah. Perlu dibedakan jadwal tahunan dan mendadak," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Seskab membeberkan sejumlah hasil konkret yang diklaim berhasil dicapai oleh pemerintahan Presiden Prabowo melalui jalur diplomasi, di antaranya:

Ekonomi & Investasi: Masuknya Indonesia ke dalam blok BRICS, jaminan keamanan stok BBM dan pangan, serta perolehan tarif dagang 0 persen. Selain itu, kunjungan ke beberapa negara menghasilkan komitmen investasi senilai Rp245 triliun, ditambah potensi investasi senilai Rp575 triliun dari kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan.

Pertahanan: Penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) melalui kerja sama dengan negara-negara besar seperti Prancis dan China dll.

Ibadah Haji: Pelaksanaan program ibadah haji yang lancar dengan fasilitas penampungan khusus bagi jemaah Indonesia.

Kemanusiaan, Indonesia aktif membantu Palestina melalui aksi air dropping bantuan logistik, pengiriman kapal rumah sakit, hingga pemberian beasiswa bagi anak-anak Palestina di Indonesia.

Perlindungan WNI: Keberhasilan evakuasi dan pengamanan WNI yang sempat tertahan di laut bebas melalui diplomasi Kementerian Luar Negeri.

Menutup pernyataannya, Teddy meminta agar prioritas agenda presiden tidak lagi diperdebatkan secara tendensius. Menurutnya, Presiden Prabowo memiliki pertimbangan matang mengenai pertemuan mana yang menjadi prioritas dan mana yang perlu dan tidak perlu dipublikasikan ke media.

"Kritik boleh, tapi jangan sampai mengaburkan fakta dari semua hasil nyata yang telah kita capai," pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat