Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Asuransi Astra Blak-blakan Soal Dampak Pelemahan Rupiah

Asuransi Astra Blak-blakan Soal Dampak Pelemahan Rupiah Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Asuransi Astra Buana bicara soal kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dan pelemehan nilai tukar rupiah terhadap industri asuransi.

Presiden Direktur Asuransi Astra Maximiliaan Agatisianus mengatakan kondisi makroekonomi tersebut berpotensi menekan daya beli masyarakat dan berdampak pada permintaan kendaraan bermotor yang selama ini menjadi salah satu penopang bisnis perusahaan.

Perkembangan ekonomi domestik, kata Maximiliaan, tidak terlepas dari dinamika global yang mempengaruhi nilai tukar dan kebijakan moneter. Dengan kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin tentu menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian pelaku industri.

“Kalau yang belakangan ini kan paling ini adalah diawali dengan pelemahan kurs kita, kemudian juga BI Rate terakhir, Bank Indonesia akhirnya yang istilahnya baru market mungkin ini paling nyebul, ternyata malah naik dan naiknya pun 50 basis poin. Jadi rasa-rasanya pasti semua juga langsung terimpact,” ujar Maximiliaan dalam acara Konferensi Pers Astra di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Ia menjelaskan, dampak utama yang dirasakan adalah tekanan daya beli masyarakat. Terlebih, sektor otomotif menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap perubahan daya beli masyarakat, khususnya yang memakai skema kredit.

“Kalau kita tanya apa yang paling terimpact dengan penurunan daya beli, pastinya salah satunya adalah demand terhadap kendaraan bermotor yang terutama didorong oleh pemberian secara kredit. Itu pasti akan berpengaruh,” ujarnya.

Baca Juga: Produk Unit Link Laris Manis di Tengah Penurunan Premi Asuransi Tradisional

Baca Juga: Inflasi Medis dan Kurs Dorong Klaim Asuransi Jiwa Membesar

Di sisi lain, pelemahan rupiah dinilai tidak memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap portofolio Asuransi Astra karena sebagian besar bisnis perusahaan berorientasi pada pasa domestik, bukan valuta asing.

“Secara portofolio kami yang berbasis US dollar tidak terlalu banyak. Sehingga kami melakukan natural hedging dengan baik secara prudent, sehingga impact secara kami tidak terlalu secara direct,” kata Maximiliaan.

Sekedar informasi, Asuransi Astra membukukan jumlah investasi senilai Rp17,05 triliun pada April 2026, angka tersebut naik 7,56% dari Rp15,85 triliun pada April 2025.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri