- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Lifting Minyak Hingga Mei Baru 570 Ribu Barel per Hari, Masih Jauh dari Target APBN
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Realisasi lifting minyak nasional hingga Mei 2026 tercatat masih berada di bawah target yang ditetapkan dalam APBN 2026.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengungkapkan lifting minyak sepanjang Januari-Mei 2026 baru mencapai sekitar 570 ribu barel per hari (BOPD).
Capaian tersebut masih tertinggal dari target lifting minyak dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar 610 ribu BOPD. Meski demikian, SKK Migas memperkirakan realisasi hingga akhir tahun dapat mendekati target.
"Realisasinya sekarang 570 ribu BOPD, outlooknya sampai dengan akhir tahun sekitar 600-610 BOPD, dan untuk 2027 sekitar 610-615 ribu BOPD," ujar Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR, Rabu (3/6/2026).
Berdasarkan data SKK Migas, realisasi lifting hingga Mei 2026 terdiri atas produksi minyak bumi sebesar 491,3 ribu BOPD, kondensat 55,8 ribu BOPD, dan natural gas liquid (NGL) sebesar 29,1 ribu BOPD. Dengan demikian, total lifting mencapai 576,2 ribu BOPD.
Djoko menjelaskan, pencapaian lifting minyak sepanjang tahun ini masih dibayangi sejumlah kendala operasional. Salah satunya adalah insiden putusnya pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang terjadi pada awal tahun dan berdampak terhadap operasi sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).
"Untuk realisasi produksi kalau kita lihat di grafik ini, Januari sangat rendah karena terjadi pipa putus, sehingga tujuh KKKS produksinya sempat berhenti," katanya.
Akibat gangguan tersebut, lifting minyak pada Januari 2026 hanya mencapai 528.099 BOPD, menjadi level terendah sepanjang tahun berjalan. Setelah kondisi berangsur normal, lifting meningkat menjadi 590.315 BOPD pada Februari.
Namun memasuki kuartal II-2026, produksi kembali menghadapi tekanan. Gangguan kelistrikan di wilayah operasi PT Pertamina Hulu Rokan serta penurunan produksi di Lapangan Banyu Urip menyebabkan lifting minyak turun menjadi 586.665 BOPD pada April dan kembali melemah menjadi 577.874 BOPD pada Mei.
"Dua blok migas ini (Rokan dan Cepu), merupakan penopang terbesar produksi nasional kita," tegas Djoko.
Di sisi lain, produksi gas bumi menunjukkan kinerja yang lebih baik. SKK Migas mencatat realisasi produksi gas telah mencapai sekitar 95% dari target APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 984 ribu barel setara minyak per hari (BOEPD).
"Untuk gas, alhamdulillah kita hampir mencapai target. Rata-rata sudah mencapai 95 persen dari target APBN," ujar Djoko.
Data SKK Migas per 31 Mei 2026 menunjukkan produksi gas mencapai 6.550 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Produksi bulanan tercatat sebesar 6.459 MMSCFD pada Januari, 6.667 MMSCFD pada Februari, 6.659 MMSCFD pada Maret, 6.807 MMSCFD pada April, dan 6.179 MMSCFD pada Mei. Hingga akhir tahun, produksi gas diproyeksikan mencapai 6.787 MMSCFD.
Baca Juga: DEN Sebut Impor Migas via BLU Hanya untuk Kondisi Mendesak
Baca Juga: Kejar Target Lifting, Bahlil Minta KKKS Segera Eksekusi Proyek Migas
Selain itu, Djoko menyoroti temuan gas baru oleh ENI di Sumur Geliga-1, Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur. Temuan tersebut diperkirakan memiliki potensi sumber daya sekitar 5 triliun kaki kubik (TCF) gas dan 300 juta barel kondensat.
Menurut dia, aktivitas eksplorasi yang masih berjalan diharapkan dapat memberikan tambahan cadangan migas nasional, terutama dari sejumlah sumur prospektif yang saat ini sedang dibor.
"Sisa pengeboran eksplorasi sebanyak 34 sumur. Mudah-mudahan ini akan discovery (temuan) gas dan minyak, terutama minyak yang di Bobara untuk pengeboran antara Petronas, Total, dan Pertamina. Targetnya adalah minyak raksasa," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra