Apindo Jujur, Lapangan Kerja Bakal Makin Sulit Usai Rupiah Sentuh Rp18.000
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat mulai berdampak terhadap aktivitas dunia usaha. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mengungkapkan sejumlah perusahaan telah menerapkan hiring freeze, menunda ekspansi, hingga menahan investasi baru untuk menjaga kelangsungan usaha di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.
Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani mengatakan dunia usaha telah menghadapi tekanan nilai tukar secara bertahap sejak awal tahun, ketika rupiah masih berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS sebelum terus melemah hingga saat ini.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi pelaku usaha tidak hanya terkait level kurs, melainkan dampaknya terhadap biaya produksi, biaya pembiayaan, dan kepastian berusaha.
“Dengan ketergantungan impor bahan baku yang masih berada di kisaran 70%, pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, mempersempit margin usaha, dan mengurangi ruang perusahaan untuk melakukan ekspansi,” ujar Shinta, dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).
Ia mengatakan banyak perusahaan kini memilih melakukan efisiensi operasional, membekukan perekrutan tenaga kerja baru, mengendalikan biaya non-esensial, hingga menunda investasi.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18.000, Purbaya: Itu Yurisdiksi Bank Sentral, Kewajiban Saya Jaga Fondasi Ekonomi
Baca Juga: Ngeri! Dolar AS Ngamuk Bikin Rupiah Jebol ke Rp18.000
Shinta menjelaskan fokus utama dunia usaha saat ini adalah menjaga keberlangsungan bisnis sekaligus mempertahankan lapangan kerja di tengah tekanan biaya yang semakin tinggi.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus level Rp18.000. Berdasarkan data Google Finance, Dolar AS sempat berada level Rp18.010 per pukul 23.23 UTC (06.23 WIB). Kemudian turun ke level Rp 17.971 per pukul 00.15 UTC (07.15 WIB).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: