Rupiah Tembus Rp18.000, Purbaya: Itu Yurisdiksi Bank Sentral, Kewajiban Saya Jaga Fondasi Ekonomi
Kredit Foto: Azka Elfriza
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian setelah mata uang Garuda menembus level Rp18.000 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah dibuka melemah 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp18.003 per dolar AS.
Di tengah kekhawatiran pasar, Menteri Keuangan sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan tersebut.
Meski rupiah terus mengalami pelemahan dalam beberapa hari terakhir, Purbaya menilai kondisi tersebut lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dan berbagai spekulasi yang berkembang, bukan karena memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.
Purbaya pun menegaskan bahwa langkah stabilisasi nilai tukar saat ini masih menjadi kewenangan utama Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.
"Pertama itu kan yurisdiksi Bank Sentral untuk menjaga nilai tukar. Itu biar mereka jalan dulu. Nanti kita lakukan rapat berkala secara normal aja," kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, Komite Stabilitas Sistem Keuangan akan segera melakukan rapat apabila memang diperlukan atau diminta langsung oleh Bank Indonesia untuk merespons perkembangan terbaru di pasar keuangan.
Baca Juga: Tak Lagi Pasang Target, tapi Purbaya Jamin IHSG Naik: Fiskal Kita Gak Ada Masalah
"Kalau kita bisa melihat ada koordinasi yang bisa ditingkatkan sehingga memperbaiki nilai tukar, kita akan lakukan. Tapi sekarang itu masih dalam yurisdiksi bank sentral kita. Kecuali Bank Sentral minta rapat cepat, ya kita akan rapat cepat," ungkap Purbaya.
Di tengah gejolak pasar, Purbaya juga membantah rumor yang beredar bahwa dirinya meminta perbankan melakukan simulasi atau stress test terhadap kemungkinan pelemahan rupiah di atas Rp18.000 per dolar AS.
Ia menilai kabar tersebut hanya memperkeruh sentimen pasar dan menambah kekhawatiran yang sebenarnya tidak berdasar.
"Ada isu macem-macem, ada rumor macem-macem di pasar. Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau rupiahnya Rp 18.000 lebih. Padahal saya nggak pernah isu seperti itu," ujar dia.
Purbaya menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dalam satu hingga dua hari terakhir berlangsung cukup cepat dan banyak dipengaruhi oleh spekulasi yang berkembang di kalangan pelaku pasar.
Meski demikian, ia memastikan koordinasi antarotoritas tetap berjalan secara rutin. KSSK, kata dia, terus memantau perkembangan ekonomi dan sektor keuangan nasional melalui rapat berkala.
Menurut Purbaya, rapat tingkat deputi KSSK digelar setiap bulan untuk membahas kondisi ekonomi terkini sekaligus memberikan masukan kepada para pimpinan lembaga yang tergabung dalam komite tersebut.
Walaupun demikian, ia kembali menekankan bahwa urusan menjaga stabilitas nilai tukar tetap berada di tangan Bank Indonesia.
"Yang menjadi kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi agar terus berjalan dan semakin kuat. Pada akhirnya, kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya,” tegasnya.
Baca Juga: Ngeri! Dolar AS Ngamuk Bikin Rupiah Jebol ke Rp18.000
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah masih melihat kondisi ekonomi nasional berada dalam jalur yang sehat, meskipun pasar keuangan sedang menghadapi tekanan akibat sentimen dan ketidakpastian jangka pendek.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: