Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Menurut Jeffrey, sekitar 80% perusahaan tercatat juga masih membukukan laba bersih pada kuartal I-2026, menjadi persentase tertinggi dalam lima tahun terakhir.
“Kalau kita lihat distribusi laba bersih per kuartal pertama tahun 2026, dari seluruh perusahaan tercatat yang ada, 80 persen membukukan laba bersih. Ini adalah persentase tertinggi lima tahun terakhir,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, pada 2020 hanya 63% emiten yang mencetak laba. Adapun pada periode 2021-2025, angkanya berkisar 73%-76%.
BEI juga mengingatkan investor agar tetap berinvestasi secara rasional dan memperhatikan profil risiko masing-masing di tengah volatilitas pasar.
Selain itu, Jeffrey menegaskan kebijakan stabilisasi pasar masih berlaku, termasuk fasilitas buyback saham tanpa persetujuan RUPS dan penundaan pelaksanaan short selling.
BEI juga membantah informasi yang sempat beredar terkait kemungkinan Indonesia diturunkan dari kategori emerging market menjadi frontier market oleh MSCI.
Baca Juga: Di Tengah Tekanan Pasar, BEI Optimistis Status Emerging Market Aman
Baca Juga: BEI Dorong Saham Indonesia Kembali Masuk FTSE dan MSCI
“Kemarin kita ikuti bersama ada informasi yang tidak akurat beredar di pasar terkait dengan tangkapan layar. Seolah-olah ada pengumuman MSCI bahwa Indonesia ditempatkan di frontier market. Yang ternyata itu adalah informasi yang salah,” katanya.
Terkait evaluasi MSCI, Jeffrey menyatakan BEI memiliki keyakinan tinggi Indonesia tetap mempertahankan status sebagai pasar berkembang.
“Dari hal-hal konkret yang sudah kita lakukan, kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi bahwa Indonesia akan tetap di emerging market,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri