Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

'Saya Tak Pernah Jamin,' Trump Dituduh Lupakan Janji Kampanye Sendiri Gegara Perang Iran-Amerika

'Saya Tak Pernah Jamin,' Trump Dituduh Lupakan Janji Kampanye Sendiri Gegara Perang Iran-Amerika Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuai sorotan setelah membantah pernah menjanjikan kebijakan "tanpa perang baru" dalam kampanye politiknya. Pernyataan itu muncul ketika Washington masih terlibat dalam konflik militer melawan Iran, sebuah situasi yang dinilai bertolak belakang dengan pesan utama yang selama ini ia gaungkan kepada para pendukungnya.

Trump menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memberikan jaminan Amerika Serikat akan sepenuhnya menghindari perang. Menurutnya, keberhasilannya membangun kekuatan militer terbesar di dunia justru menunjukkan bahwa ia tidak pernah berkomitmen untuk meniadakan kemungkinan penggunaan kekuatan militer.

Baca Juga: Masuk 'Grup' Silmy Karim Cs, Ini Deretan Nama yang Terseret Kasus Korupsi Izin Tinggal WNA

"Pertama-tama, saya tidak pernah menjamin tidak akan ada perang. Mengapa saya membangun militer terkuat di dunia jika demikian?" kata Trump, dikutip Senin (8/6).

Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian karena selama bertahun-tahun Trump dikenal sebagai tokoh yang kerap mengkritik keterlibatan Amerika dalam konflik panjang di Timur Tengah. Ia bahkan menjadikan isu penghentian perang berkepanjangan sebagai salah satu tema utama dalam kampanye presiden.

Saat kampanye pemilu 2024, Trump pernah menyampaikan kepada para pendukungnya bahwa ia tidak akan mengirim warga Amerika untuk bertempur dan mati dalam perang asing yang dianggap tidak memiliki akhir yang jelas.

Dalam pidato kemenangan usai pemilu, Trump juga menyatakan dirinya tidak akan memulai perang baru dan justru ingin menghentikan konflik-konflik yang sedang berlangsung.

Namun kini, ketika konflik dengan Iran menjadi kenyataan, Trump mengambil posisi berbeda. Ia menegaskan bahwa operasi militer yang sedang berlangsung tidak bisa disamakan dengan perang berkepanjangan seperti yang pernah terjadi di Vietnam atau Irak.

Menurutnya, ancaman dari Iran harus dihadapi karena berkaitan dengan isu senjata nuklir yang dianggap berbahaya bagi Amerika Serikat. Trump menyebut konflik saat ini hanya berlangsung dalam jangka waktu terbatas dan tidak akan berkembang menjadi perang tanpa akhir.

"Kita hanya berada di sana selama beberapa bulan dan ancamannya sebagian besar sudah berakhir. Segera semuanya akan selesai," ujarnya.

Meski demikian, pernyataan Trump memunculkan kritik karena dianggap menggeser narasi yang selama ini menjadi salah satu daya tarik politiknya, yakni menolak keterlibatan Amerika dalam konflik luar negeri yang memakan biaya besar dan korban jiwa.

Menariknya, Trump bahkan menolak mendefinisikan situasi saat ini sebagai perang antara Amerika Serikat dan Iran.

Ketika ditanya apakah Washington sedang berada dalam kondisi perang, Trump mengatakan dirinya tidak memikirkan label tersebut dan hanya melakukan apa yang menurutnya perlu dilakukan.

"Saya tidak mendefinisikannya sebagai apa pun. Saya tidak memikirkannya. Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan," kata Trump.

Baca Juga: Terjadi di Serang, Indonesia Kembali Dikejutkan Dugaan Penyelewengan MBG

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya perdebatan mengenai konsistensi kebijakan luar negeri Trump. Di satu sisi, ia masih mengklaim sebagai pemimpin yang menentang perang tanpa akhir. Namun di sisi lain, keterlibatan militer Amerika dalam konflik Iran membuat lawan-lawan politiknya mempertanyakan apakah Trump telah meninggalkan salah satu janji politik yang paling sering ia gunakan selama kampanye.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar