Kredit Foto: FAR Capital
Berbeda dengan Indonesia, high-rise di Malaysia konsisten mencetak untung. Sebagai contoh, Faizul memberikan dua bukti nyata development high-rise, yakni di kawasan Medini di Iskandar Puteri, Johor dan Desa Park City di Kuala Lumpur dari hasil riset presisi.
| Lokasi | Harga Awal | Harga Transaksi Saat Ini | Pertumbuhan Aset (Capital Gain) | Pertumbuhan Kurs (Currency Growth) | Total Pengembalian Rill |
| Iskandar Puteri, Johor | RM413.440 (Rp1,77 Miliar) |
RM596.224 (Rp2,56 Miliar) |
+44,2% (Dalam 3 Tahun) |
+14% (sejak 2022) |
+58,2% (Dalam waktu 3 tahun) |
| Desa Park City, KL | RM480.000 (Rp2,13 miliar) |
RM850.000 (Rp3,78 miliar) |
+77% (Dalam 5 tahun) |
+28% (sejak 2021) |
+105% (Dalam waktu 5 tahun) |
Khusus proyek Medini, arus kasnya pun sehat. Harga sewa melonjak dari RM1.300 menjadi RM2.800 (yield lebih dari 8%), mencetak cash flow positif bersih di atas RM500 (Rp2,15 juta) per bulan. Di Kuala Lumpur, Desa Park City mencetak total pengembalian fenomenal hingga 105,0% berkat penguatan kurs.
Fakta ini membuktikan apartemen di Malaysia aktif bergerak naik. Namun, Faizul mengingatkan bahwa investor tetap harus masuk di posisi harga yang tepat karena jika asal beli tanpa data sama dengan mengundang kerugian.
"Kedua kawasan ini memiliki ekosistem yang sudah sangat matang. Namun, imbal hasil investasi yang maksimal hanya bisa dicapai jika investor masuk di posisi harga yang tepat," ungkap Faizul.
Penggunaan Data untuk Membeli Properti yang Benar di Malaysia
Membeli properti menggunakan emosi hanya akan memicu rugi. Mereka yang menang di Malaysia adalah yang berinvestasi menggunakan data.
Berangkat dari hal itu, FAR Capital hadir membantu investor Indonesia. Melalui 8 filter ketat, FAR Capital mengupayakan para investor dan pembeli terhindar dari properti overpriced. Hasilnya, banyak yang sudah sukses membeli aset hingga 40% lebih murah dibandingkan harga warga lokal.
"Di tahun 2026 ini, kami menyadari makin tingginya permintaan dari investor Indonesia yang ingin melindungi dan mengembangkan kekayaan mereka. Memang sangat menantang bagi investor lokal untuk menemukan properti yang memenuhi dua kriteria utama: menghasilkan arus kas yang positif atau memberikan kenaikan nilai aset yang bagus. Saya percaya Malaysia bisa menjadi solusinya," jelas Faizul.
Lebih dari sekadar instrumen investasi, kepemilikan properti di Malaysia tidak hanya memberikan akses hak milik permanen, tetapi juga bisa memberikan residensi bagi investor beserta keluarganya, hingga izin untuk membuka perusahaan (PT) dan bekerja di Malaysia di bawah program resmi MM2H (Malaysia My Second Home).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri