Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Ia menambahkan, kolaborasi ini akan difokuskan pada penguatan teknologi pengolahan untuk mempercepat hilirisasi mineral strategis.
“Teknologi pengolahan ini memang cukup strategis dan selama ini banyak dikunci oleh negara lain. Karena itu kami berupaya menghadirkan partner yang tepat agar proses pengolahan bisa dipercepat,” katanya.
Direktur Utama PT Timah Tbk Restu Widiyantoro menegaskan bahwa kerja sama ini membuka peluang bagi perusahaan untuk naik kelas melalui pengelolaan mineral strategis.
“Selama ini PT TIMAH hanya fokus mengelola bijih timah dari hulu sampai hilir untuk ekspor. Dengan adanya kerja sama ini, kami memiliki kesempatan untuk naik kelas melalui pengembangan hilirisasi dan pengelolaan mineral strategis,” ujarnya.
Ia menambahkan, slag timah yang selama ini dianggap residu ternyata memiliki potensi ekonomi tinggi jika diolah lebih lanjut.
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan kolaborasi ini diarahkan untuk mengoptimalkan kekayaan mineral nasional bagi kepentingan negara.
“Kita ingin mengelola kekayaan alam yang dimiliki bangsa ini untuk tujuan utama, yakni kepentingan nasional dan kesejahteraan bangsa serta negara,” ujarnya.
Chief Technology Officer Danantara Sigit Puji Santosa menilai REE merupakan sektor strategis yang selama ini belum tergarap optimal.
“Mineral ini sebenarnya ada di sekitar kita, tetapi belum mampu memberikan nilai tambah maksimal bagi negara,” katanya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan hilirisasi mineral kritis menjadi kunci peningkatan daya saing industri nasional.
“Presiden menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin lagi mengekspor sumber daya alam dalam bentuk mentah. Karena itu hilirisasi menjadi langkah penting,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: