Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Komdigi Ungkap Screen Time Anak Indonesia Capai 7,5 Jam

Komdigi Ungkap Screen Time Anak Indonesia Capai 7,5 Jam Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendorong anak-anak untuk kembali aktif berinteraksi di ruang publik sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan sehat. Langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan Tunggu Anak Siap (Tunas) yang digelar di Jakarta.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, mengatakan anak-anak saat ini hidup di dua ruang sekaligus, yakni dunia fisik dan dunia digital. Karena itu, diperlukan pendampingan agar mereka dapat memanfaatkan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.

“Anak-anak boleh memegang teknologi, tetapi mereka tidak boleh dibiarkan sendirian menghadapi risiko dari teknologi itu. Oleh karena itu, marilah kita jaga anak-anak kita agar tidak terpapar hal-hal negatif,” ujar Bonifasius dalam acara Tunas Jakarta, Jumat (12/6/2026).

Menurut dia, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah tingginya durasi penggunaan gawai oleh anak-anak. Ia menyebut rata-rata screen time anak di Indonesia mencapai sekitar 7,5 jam per hari, sementara interaksi mereka di ruang publik semakin berkurang.

Bonifasius menegaskan gerakan “Tunggu Anak Siap” bukan bertujuan membatasi akses anak terhadap teknologi. Program tersebut justru dirancang untuk memastikan anak memasuki ruang digital ketika telah siap secara usia, emosi, dan pemahaman, serta memperoleh pendampingan yang memadai dari orang tua.

"Tunggu Anak Siap bukan berarti menghambat anak, bukan berarti membuat anak tertinggal. Justru sebaliknya, kita ingin memastikan anak-anak masuk ke ruang digital saat mereka benar-benar siap, baik secara usia, emosi, maupun pemahaman karena didampingi orang tua," katanya.

Ia juga menekankan pentingnya peran platform digital dalam melindungi anak dari akses terhadap layanan yang tidak sesuai dengan kelompok usia mereka.

"Namun kami juga memberikan penekanan kepada platform agar siap bertanggung jawab," tambahnya.

Baca Juga: YouTube Terbitkan Panduan Kesejahteraan Digital untuk Orang Tua Dukung Implementasi PP TUNAS

Baca Juga: Puteri Indonesia Siap Kampanyekan PP TUNAS, Dukung Perlindungan Anak di Ruang Digital

Baca Juga: Kemenekraf: Kepastian Investasi Industri Game Bergantung pada Konsistensi Regulasi PP Tunas

Selain keluarga, Bonifasius menilai sekolah dan komunitas memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi digital. Menurutnya, literasi digital harus menjadi kebiasaan sehari-hari, mulai dari menjaga data pribadi, berinteraksi secara sehat di internet, mengenali konten berbahaya, hingga mengetahui cara mencari bantuan saat menghadapi masalah di ruang digital.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Tunas Jakarta, Alfreno, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai alternatif aktivitas non-digital bagi anak-anak sekaligus mendorong interaksi sosial di ruang fisik.

"Kita ingin memberitahukan kepada publik bahwa ruang digital itu bagus dan tetap membutuhkan pengawasan orang tua. Namun, kita juga tetap membutuhkan koneksi di ruang publik dan ruang fisik," ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri