Kredit Foto: Istimewa
Danantara Investment Management mencatat keberhasilan dalam penerbitan obligasi global (global bond) perdana senilai US$1,5 miliar. Pencapaian tersebut mendapat respons positif dari kalangan akademisi yang menilai tingginya minat investor internasional mencerminkan kuatnya kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Akademisi Universitas Esa Unggul, Iswadi, mengatakan keberhasilan penerbitan obligasi global Danantara menjadi bukti bahwa narasi pesimistis terhadap ekonomi Indonesia tidak sejalan dengan realitas pasar.
"Keberhasilan penerbitan obligasi global Danantara menunjukkan bahwa kepercayaan investor global terhadap Indonesia tetap kuat. Ini sekaligus membantah narasi 'Sell Indonesia'. Yang terjadi justru sebaliknya, dunia sedang menunjukkan sikap 'Buy Indonesia'," ujar Iswadi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Danantara Investment Management, anak usaha sovereign wealth fund Danantara, menerbitkan obligasi global dalam dua tenor. Sebanyak US$750 juta diterbitkan untuk tenor lima tahun dengan yield 5,35 persen, sementara US$750 juta lainnya memiliki tenor sepuluh tahun dengan yield 5,95 persen.
Penerbitan obligasi tersebut mendapat sambutan positif dari pasar internasional. Order book tercatat mencapai US$4,6 miliar atau mengalami oversubscription lebih dari tiga kali lipat dibandingkan target awal sebesar US$1 miliar.
Tingginya permintaan investor turut mendorong penurunan yield final hingga 35 basis poin dari panduan awal. Kondisi ini diperkirakan dapat menghemat biaya bunga sekitar US$5 juta per tahun.
Menurut Iswadi, pencapaian tersebut memiliki makna strategis karena mayoritas pembeli berasal dari investor institusi global yang dikenal memiliki standar penilaian investasi yang ketat.
Data alokasi investor menunjukkan sebanyak 41 persen pembeli berasal dari kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA), diikuti investor Amerika Serikat sebesar 38 persen dan investor Asia sebesar 21 persen.
Sebanyak 82 persen pembeli merupakan asset manager dan fund manager institusional yang umumnya berorientasi pada investasi jangka panjang.
"Investor institusi global tidak mengambil keputusan berdasarkan sentimen sesaat. Mereka melakukan due diligence yang mendalam. Ketika mereka berani menempatkan dana dalam jumlah besar pada instrumen Danantara, itu berarti mereka melihat prospek ekonomi Indonesia sangat menjanjikan," kata Iswadi.
Ia menambahkan, premi yield obligasi Danantara yang hanya sekitar 10 hingga 20 basis poin di atas obligasi dolar pemerintah Indonesia menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan pasar terhadap kredibilitas lembaga tersebut.
"Untuk ukuran institusi yang baru berdiri, premi yang sangat tipis ini mencerminkan keyakinan investor bahwa Danantara memiliki fondasi yang kuat dan didukung tata kelola yang kredibel. Ini merupakan pencapaian yang sangat baik," ujarnya.
Iswadi menilai keberhasilan penerbitan obligasi ini akan memberikan sejumlah dampak positif bagi perekonomian nasional. Selain menjadi sinyal bahwa Indonesia memiliki institusi investasi baru yang bankable dan mampu menarik modal global, masuknya dana sebesar US$1,5 miliar juga dinilai berpotensi memperkuat cadangan devisa dan menopang stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global.
Keberhasilan tersebut juga diyakini dapat mendorong partisipasi lebih luas dari sektor perbankan dan investor swasta dalam pembiayaan proyek-proyek strategis nasional melalui skema co-investment.
"Obligasi Danantara yang mengalami oversubscription lebih dari tiga kali lipat dapat diibaratkan sebagai jas hujan di tengah ketidakpastian global. Dunia sedang memberikan vote of confidence kepada Indonesia dan melihat Danantara sebagai mesin investasi baru yang menjanjikan," jelasnya.
Meski demikian, Iswadi mengingatkan tantangan terbesar Danantara saat ini bukan lagi menghimpun dana, melainkan memastikan dana yang diperoleh dapat diwujudkan menjadi proyek-proyek produktif yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Baca Juga: Danantara Minta Himbara Genjot Kredit ke Sektor Produktif
"Ke depan, yang harus dibuktikan adalah bagaimana dana tersebut diubah menjadi infrastruktur yang produktif, seperti bendungan, pembangkit listrik tenaga surya, pusat data, rumah sakit, dan berbagai proyek strategis lainnya. Jika berhasil, maka dana US$1,5 miliar hari ini dapat menjadi katalis investasi yang jauh lebih besar pada masa mendatang," tuturnya.
Menurut Iswadi, keberhasilan Danantara berpotensi menjadi tonggak penting dalam transformasi ekonomi Indonesia menuju negara tujuan investasi global yang semakin diperhitungkan.
"Jika momentum ini terus dijaga dengan tata kelola yang baik dan investasi yang produktif, Indonesia tidak hanya akan dikenal sebagai negara peminjam dana, tetapi sebagai negara yang menjadi tujuan utama investasi dunia," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: