Israel Kangkangi Trump, Ogah Mundur dari Lebanon Meski Sudah Ada Kesepakatan Damai Amerika-Iran
Kredit Foto: Istimewa
Upaya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membangun perdamaian dengan Iran menghadapi ujian baru. Israel dilaporkan menolak menarik pasukannya dari Lebanon, meski memorandum of understanding (MoU) antara Washington dan Teheran secara jelas menyerukan penghentian operasi militer di negara tersebut.
Militer Israel (Israel Defense Forces/IDF) menegaskan bahwa pasukannya masih akan tetap berada di zona keamanan sekitar 10 kilometer di dalam wilayah Lebanon. Menurut IDF, keberadaan pasukan tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan operasional dan melindungi komunitas di wilayah utara Israel.
Baca Juga: 'Kami Tak Butuh Mereka,' Amerika Klaim Mampu Bersihkan Ranjau Iran Sendirian Tanpa Bantuan Dunia
"Pasukan akan terus bekerja menghilangkan ancaman di Lebanon selatan," kata IDF, dikutip dari Reuters, Jumat (19/6).
Militer Israel juga memperingatkan bahwa area tersebut masih berbahaya dan meminta warga sipil Lebanon tidak mendekati zona keamanan.
Tidak hanya di daratan, Israel juga menyatakan bahwa zona keamanan angkatan lautnya akan tetap berlaku hingga ke wilayah perairan berdasarkan kebutuhan operasional.
Di tengah kesepakatan damai AS-Iran, dua pejabat Israel, termasuk seorang pejabat senior yang dekat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengungkapkan bahwa Tel Aviv saat ini justru sedang bernegosiasi dengan Washington agar dapat mempertahankan kehadiran pasukannya di Lebanon selatan.
Seorang pejabat keamanan Israel mengatakan pembahasan lanjutan masih berlangsung melalui jalur perundingan langsung antara Israel dan Lebanon. Para perwakilan kedua pihak diperkirakan akan kembali bertemu pekan depan.
Sikap Israel ini berpotensi menjadi hambatan serius bagi agenda diplomatik Trump. Sebelumnya, memorandum perdamaian antara AS dan Iran disebut memuat penghentian operasi militer di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon.
Isu Lebanon sendiri selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam negosiasi antara Washington dan Teheran. Iran beberapa kali menuntut penghentian operasi militer Israel terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon sebagai bagian dari syarat menuju stabilitas kawasan.
Trump sendiri sebelumnya telah berulang kali memperingatkan Israel agar tidak memperluas serangan di Lebanon. Pada pertengahan Juni, ia secara terbuka meminta Israel dan Lebanon menghentikan saling serang demi menjaga kesepakatan damai dengan Iran yang masih rapuh.
"Tidak boleh ada lagi serangan Israel di mana pun di Lebanon. Ini bisa menjadi awal perdamaian yang panjang dan indah. Jangan dirusak," kata Trump.
Meski demikian, Lebanon melaporkan serangan udara Israel masih terjadi di sejumlah wilayah Lebanon selatan.
Trump juga mengakui memiliki perbedaan pandangan dengan Netanyahu terkait penanganan situasi di Lebanon. Ia mengatakan telah meminta pemimpin Israel itu untuk mengambil pendekatan yang lebih lunak dan tidak menggunakan kekuatan secara berlebihan.
"Anda tidak perlu merobohkan sebuah gedung setiap kali ada seseorang yang masuk ke sana dan diduga berasal dari Hizbullah," ujar Trump.
Presiden AS itu juga menilai Israel dapat bertindak lebih baik dalam menghadapi ancaman Hizbullah.
"Saya tidak mengatakan mereka tidak boleh melindungi diri. Saya hanya mengatakan mereka bisa melakukan pekerjaan yang jauh lebih baik terhadap Hizbullah," katanya.
Trump bahkan mengungkapkan simpatinya terhadap rakyat Lebanon yang menurutnya telah hidup dalam penderitaan selama puluhan tahun.
"Saya merasa sangat sedih untuk Lebanon. Itu dulu merupakan budaya yang luar biasa, memiliki profesor, dokter, dan pengacara terbaik. Namun selama 50 hingga 60 tahun terakhir mereka hidup dalam neraka," ujar Trump.
Baca Juga: Iran Menang Perang? Bocoran Kesepakatan Sinyalkan Amerika Setuju Cabut Sanksi hingga Bayar Rp4.800 T
Penolakan Israel untuk mundur dari Lebanon menunjukkan bahwa meski AS dan Iran telah mencapai kesepakatan awal menuju perdamaian, implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan besar. Sikap Tel Aviv yang bersikeras mempertahankan pasukan di Lebanon berpotensi menjadi batu sandungan bagi upaya Trump membangun tatanan baru di Timur Tengah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: