Kemenperin Bantah Isu Relokasi ke Vietnam, Dua Industri Komponen Otomotif Tetap Produksi
Kredit Foto: Istimewa
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan dua perusahaan industri komponen otomotif di Jawa Timur yang disebut akan merelokasi fasilitas produksinya ke Vietnam masih beroperasi normal di Indonesia. Kedua perusahaan juga dipastikan tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan tetap menjalankan aktivitas produksi untuk memenuhi pasar ekspor.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita telah menginstruksikan Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) untuk melakukan penelusuran menyeluruh terhadap informasi yang berkembang terkait relokasi dan PHK di sektor industri komponen otomotif.
"Menindaklanjuti informasi yang beredar, Bapak Menteri Perindustrian telah meminta Dirjen ILMATE melakukan verifikasi langsung guna memastikan kondisi yang sebenarnya di lapangan," ujar Febri di Jakarta, Selasa (24/6).
Berdasarkan hasil penelusuran, Kemenperin mengidentifikasi perusahaan yang dimaksud dalam pemberitaan sebagai PT JAI di Kabupaten Pasuruan dan PT SAI di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kedua perusahaan tersebut tercatat aktif menyampaikan laporan kegiatan industri melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) sesuai ketentuan yang berlaku.
Hasil verifikasi juga menunjukkan bahwa fasilitas produksi kedua perusahaan masih beroperasi secara normal dan tidak terdapat rencana relokasi fasilitas produksi dari Indonesia ke Vietnam. Selain itu, manajemen perusahaan menegaskan tidak ada pengurangan tenaga kerja maupun PHK di fasilitas produksi mereka.
Baca Juga: Kemenperin: Banyak Usaha Kreatif Gagal karena Salah Membaca Kebutuhan Pasar
"Dari hasil penelusuran yang kami lakukan, sementara dapat disimpulkan bahwa belum ada rencana relokasi fasilitas produksi ke Vietnam dan tidak terdapat PHK pada kedua perusahaan tersebut," kata Febri.
Kemenperin mencatat kedua perusahaan memiliki peran penting dalam industri komponen otomotif nasional dengan total nilai investasi lebih dari Rp1,9 triliun. Investasi tersebut mencerminkan komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung pengembangan industri manufaktur dan memperkuat rantai pasok otomotif di Indonesia.
Pada triwulan I 2026, PT SAI merealisasikan produksi sekitar 1,2 juta unit komponen, sementara PT JAI memproduksi sekitar 1,6 juta unit komponen. Seluruh hasil produksi kedua perusahaan tersebut ditujukan untuk pasar ekspor sehingga menjadi bagian dari rantai pasok global industri otomotif dan berkontribusi terhadap kinerja ekspor manufaktur nasional.
Menurut Febri, isu relokasi yang berkembang telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pembeli dan pemasok kedua perusahaan. Bahkan sejumlah mitra bisnis disebut mempertanyakan keberlanjutan kontrak dan operasional perusahaan setelah munculnya pemberitaan tersebut.
Karena itu, Kemenperin menegaskan pentingnya penyampaian informasi yang akurat mengingat isu terkait relokasi pabrik dan PHK dapat memengaruhi kepercayaan pelaku usaha, stabilitas rantai pasok, dan iklim investasi sektor manufaktur.
Baca Juga: Perkuat Kualitas Data, Kemenperin Minta Industri Aktif dalam Sensus Ekonomi 2026
Selain melakukan verifikasi terhadap informasi yang berkembang, Menteri Perindustrian juga telah menginstruksikan seluruh jajaran Kemenperin untuk memperkuat pemantauan terhadap kinerja industri nasional serta melakukan langkah mitigasi cepat apabila ditemukan potensi gangguan produksi, penutupan pabrik, atau ancaman PHK.
"Pemerintah akan terus memonitor perkembangan industri dan mengambil langkah mitigasi yang cepat dan terukur agar aktivitas produksi tetap terjaga, investasi berlanjut, dan tenaga kerja terlindungi," ujar Febri.
Kemenperin menegaskan komitmennya untuk menjaga iklim usaha yang kondusif serta memastikan sektor manufaktur nasional tetap kompetitif dan mampu beradaptasi menghadapi dinamika ekonomi global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman