Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Prabowo Ungkap Pernah Tolak Impor Beras, Singgung Pembelaan ke Petani

Prabowo Ungkap Pernah Tolak Impor Beras, Singgung Pembelaan ke Petani Kredit Foto: Antara/Adiwinata Solihin
Warta Ekonomi, Jakarta -

Prabowo Subianto mengungkapkan pernah menolak keras rencana impor beras saat masa panen karena dinilai dapat merugikan petani lokal. Ia menegaskan bahwa kebijakan impor di waktu yang tidak tepat bisa menghancurkan harga gabah di tingkat petani.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam acara Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026), saat ia menceritakan kembali pengalamannya ketika masih menjabat Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Saat itu, Prabowo mengaku langsung menemui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian periode 2004–2005, Aburizal Bakrie, untuk menyampaikan keberatan terhadap rencana impor beras. Ia meminta agar kebijakan tersebut ditunda, terutama ketika petani dalam masa panen.

Menurutnya, impor beras di saat panen raya akan berdampak langsung pada anjloknya harga di tingkat petani. Kondisi tersebut, kata dia, membuat petani tidak mendapatkan keuntungan bahkan berpotensi merugi.

“Waktu itu saya Ketua Umum HKTI, saya menghadap Menko Perekonomian waktu itu namanya adalah Aburizal Bakrie. Waktu itu pemerintah mau impor beras, saya sebagai Ketua Umum HKTI, saya menghadap dan saya mengimbau jangan lah impor beras, apalagi impor beras pada saat petani mau panen,” kata Prabowo.

Ia menilai kebijakan tersebut menunjukkan kurangnya keberpihakan terhadap sektor pertanian dalam negeri. Prabowo menyebut kebijakan impor saat itu lebih mengutamakan alasan efisiensi dibandingkan perlindungan terhadap petani lokal.

Prabowo juga menyinggung adanya pandangan dari sejumlah pihak yang menilai petani Indonesia kurang efisien dibandingkan negara lain seperti Vietnam. Menurutnya, pandangan tersebut tidak sepenuhnya memahami kondisi riil petani di lapangan.

Ia bahkan mengkritik keras pandangan yang menyarankan agar pemerintah tidak perlu terlalu membela petani lokal jika dianggap tidak efisien. Menurutnya, cara pandang seperti itu tidak sesuai dengan semangat bernegara.

Baca Juga: Ribuan Petani di Gorontalo Beri Tanda Kehormatan ke Prabowo

“Ini kata-kata beliau, bukan Pak Aburizal Bakrie, tetapi salah satu penasihatnya, kalau petani Indonesia tidak efisien, itu kata-kata beliau,” tambah Prabowo.

Lebih lanjut, Prabowo menegaskan bahwa tujuan berdirinya negara merdeka adalah untuk mensejahterakan rakyat, termasuk petani, nelayan, buruh, dan seluruh lapisan masyarakat. Ia menilai kebijakan ekonomi harus berpihak pada kesejahteraan rakyat, bukan semata-mata pada efisiensi pasar.

Ia juga mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia diperjuangkan agar rakyat dapat hidup layak, memiliki pendidikan yang baik, serta akses kesehatan yang terjangkau. Menurutnya, hal tersebut harus menjadi orientasi utama dalam setiap kebijakan negara.

“Ini tujuan kita merdeka,” tegas Prabowo dalam pidatonya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama