- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Dibuka Menghijau ke Level 6.010, Sentimen Status MSCI Jadi Penopang
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona hijau pada perdagangan pagi ini dengan mencatatkan penguatan tipis. Berdasarkan data RTI Business sekitar pukul 09.01 WIB, IHSG berada di level 6.010, naik 11,484 poin atau 0,19% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sejak awal perdagangan, IHSG dibuka di level 6.010,339 dan sempat menyentuh posisi tertinggi di 6.016, sementara level terendah berada di 5.999.
Aktivitas perdagangan menunjukkan volume transaksi mencapai 462,903 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp341,833 miliar dari 48.499 kali frekuensi perdagangan. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 233 saham menguat, 183 saham melemah, dan 224 saham bergerak stagnan.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia pada awal sesi tercatat sebesar Rp10.565,457 triliun, mencerminkan sentimen pasar yang cenderung positif pada pembukaan perdagangan hari ini.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan eecara teknikal, pergerakan IHSG diproyeksikan melemah terbatas sejak “wave (b)” terbentuk. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif didukung penurunan volume, namun RSI menunjukkan sinyal positif.
"Para pelaku pasar merasa lega setelah MSCI mengumumkan tetap mempertahankan status Indonesia dalam kategori Emerging Market," kata Nafan dalam analisanya.
Sentimen ini, lanjut Nafan, meredakan kekhawatiran besar bahwa Indonesia akan downgrade ke Frontier Market, sehingga berhasil menahan arus modal keluar dalam skala masif dan memicu aksi bargain hunting. Oleh sebab itu, pergerakan IHSG terlihat membentuk “wave (b)”.
Sementara itu, kemajuan upaya perdamaian antara AS dan Iran menjadi katalis positif yang kuat. Dampaknya langsung terasa pada stabilisasi harga minyak mentah dunia, dimana WTI ke kisaran USD71 dan Brent ke USD75 per barel. Bagi Indonesia sebagai net oil importer, hal ini meringankan beban fiskal dan meredakan ekspektasi inflasi.
Di sisi lain, Rupiah juga terapresiasi 0,05% menjadi Rp17.943 per USD. Adapun Bank Indonesia menunjukkan derasnya aliran dana asing yang masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan obligasi pemerintah yang mencapai sekitar Rp105 triliun sepanjang Juni, sehingga turut memberikan bantalan stabilitas bagi nilai tukar rupiah.
Baca Juga: IHSG Menguat di Level 6.128, Bayang-Bayang Evaluasi MSCI Jadi Perhatian Utama
Baca Juga: IHSG Rebound 1,96%, Saham Bank Jumbo Jadi Penopang Utama
Meski demikian, hasil data US core PCE (3,4%) dan headline PCE (4,1%) per Mei secara tahunan di atas target inflasi The Fed sebesar 2%, akan menjadi alasan kuat bagi The Fed untuk menerapkan kebijakan kenaikan suku bunga selama 12 bulan ke depan.
Di sisi lain, penurunan peringkat daya saing Indonesia dalam World Competitiveness Ranking sebanyak 21 peringkat selama 2 tahun terakhir, dari posisi 27 ke peringkat 48 dari 70 negara, masih menjadi catatan fundamental domestik yang dicermati oleh investor jangka panjang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: