Investasi Dulu atau Beli Rumah Dulu? Begini Cara Menentukan Pilihan yang Tepat
Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Perdebatan mengenai pilihan menggunakan dana untuk berinvestasi atau membeli rumah tunai kembali menjadi perhatian, terutama di kalangan generasi muda. Guru Besar Universitas Indonesia Rhenald Kasali menilai tidak ada jawaban tunggal atas dilema tersebut karena keputusan finansial tidak hanya ditentukan oleh potensi keuntungan investasi, tetapi juga mempertimbangkan likuiditas aset, perubahan nilai uang, hingga kenyamanan psikologis.
Dalam video yang diunggah melalui kanal resminya, Rhenald menjelaskan semakin banyak anak muda yang memilih memiliki dana tunai untuk diinvestasikan dibandingkan membeli rumah secara tunai. Menurutnya, pilihan tersebut didorong anggapan bahwa dana investasi dapat terus berkembang sekaligus memberikan fleksibilitas keuangan.
“Lagi ramai perbincangan di antara anak-anak muda. Mana yang lebih baik? Punya uang tunai Rp1 miliar lalu diinvestasikan, sementara rumahnya ngontrak dulu, atau langsung membeli rumah secara tunai?” ujar Rhenald dalam video tersebut.
Ia mengatakan sebagian besar generasi muda cenderung memilih menyimpan dana untuk investasi karena dinilai mampu menghasilkan imbal hasil, bahkan menjadi modal membuka usaha.
“Banyak sekali yang mengatakan lebih baik saya punya uang Rp1 miliar di tangan, saya bisa investasikan, dapat keuntungan lagi, rumah ngontrak saja. Jadi uang itu dijadikan modal untuk investasi,” katanya.
Nilai Uang Terus Berubah
Meski demikian, Rhenald mengingatkan keputusan hanya memegang uang tunai juga memiliki risiko. Salah satunya adalah penurunan daya beli akibat kenaikan harga aset dari waktu ke waktu.
Menurut dia, uang yang disimpan tanpa strategi investasi yang tepat belum tentu mampu mengejar kenaikan harga properti dalam beberapa tahun ke depan.
“Kalau kalian punya Rp1 miliar hari ini, disimpan terus lima tahun lagi, apalagi sepuluh tahun lagi, itu Rp1 miliar barangkali sudah tidak bisa membeli rumah lagi. Harganya sudah naik,” ujarnya.
Di sisi lain, Rhenald juga mengingatkan risiko terlalu banyak menempatkan kekayaan pada aset properti.
Ia menyoroti fenomena house poor, yakni kondisi ketika seseorang memiliki aset berupa rumah atau tanah dalam jumlah besar, tetapi kesulitan memperoleh dana tunai karena aset tersebut tidak mudah dijual.
“Sekarang kita menyaksikan banyak orang tua yang istilahnya house poor. Uangnya tidak ada di tangan, tetapi punya aset banyak. Punya tanah, punya rumah, tetapi tidak bisa investasi. Begitu mau dijual untuk dinikmati saat hari tua, ternyata tidak mudah terjual,” katanya.
Baca Juga: IPOT Soroti Fenomena FOMO, Banyak Anak Muda Investasi Tanpa Pahami Risiko
Baca Juga: Ini Penyebab Asuransi Kalah Populer dari Investasi di Indonesia
Menurut Rhenald, kondisi tersebut membuat sebagian orang tetap harus mencari pinjaman meski memiliki aset bernilai besar karena properti merupakan aset yang tidak likuid.
“Aset ini tidak liquid. Karena itulah banyak orang yang akhirnya tetap harus meminjam uang meskipun memiliki tanah atau rumah,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri