Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bukan Soal Raffi Ahmad, Raymond Chin Ungkap Risiko Utama IPO RANS

Bukan Soal Raffi Ahmad, Raymond Chin Ungkap Risiko Utama IPO RANS Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Edukator Finansial Raymond Chin menilai rencana penawaran umum perdana saham (IPO) PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk perlu dilihat berdasarkan fundamental bisnis dan kinerja keuangan, bukan sekadar popularitas Raffi Ahmad dan Nagita Slavina sebagai pendirinya. Menurutnya, seluruh informasi perusahaan kini dapat diuji secara terbuka melalui prospektus yang telah dipublikasikan menjelang IPO.

Raymond mengatakan proses IPO justru membuka kesempatan bagi publik untuk menilai kondisi bisnis RANS secara lebih objektif, termasuk valuasi, sumber pendapatan, risiko usaha, hingga penggunaan dana hasil penawaran umum.

“Kalau IPO, kita harus publikin dan transparan 100%,” kata Raymond dalam video yang diunggah melalui kanal resminya, dikutip Sabtu (27/6/2026).

Berdasarkan prospektus ringkas, RANS menawarkan hingga 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02% modal ditempatkan dan disetor setelah IPO, dengan kisaran harga Rp135-Rp170 per saham. Nilai perusahaan diperkirakan mencapai sekitar Rp1,7 triliun hingga Rp2 triliun, sedangkan potensi dana yang dihimpun sekitar Rp429,25 miliar.

Raymond menilai investor perlu memahami bahwa RANS bukan hanya mengelola kanal media sosial milik Raffi Ahmad. Perseroan memiliki empat lini usaha utama, yakni produksi dan distribusi konten media, pengelolaan intellectual property(IP), penyelenggaraan kegiatan komersial dan hiburan, serta investasi strategis melalui berbagai entitas anak dan perusahaan asosiasi.

Meski demikian, ia menilai perhatian investor seharusnya lebih diarahkan pada tren kinerja keuangan perusahaan.

Berdasarkan laporan keuangan dalam prospektus, pendapatan RANS turun selama tiga tahun berturut-turut, dari Rp437,81 miliar pada 2023 menjadi Rp410,50 miliar pada 2024 dan kembali turun menjadi Rp353,38 miliar pada 2025. Laba bersih juga menyusut 41,6% menjadi Rp56,69 miliar pada 2025 dari Rp97,07 miliar pada tahun sebelumnya.

Menurut Raymond, penurunan terbesar terjadi pada segmen duta merek (brand ambassador) dan talent management yang turun lebih dari 51%, dari sekitar Rp107,18 miliar menjadi Rp51,93 miliar. Sementara penjualan produk berbasis IP seperti makanan, minuman, dan kecantikan juga turun sekitar 12,7% menjadi Rp107 miliar.

Ia mengakui prospektus menjelaskan sebagian penurunan pendapatan dipengaruhi pelepasan entitas anak PT RANS Prestasi Bersama (RPKSB), sehingga terdapat faktor yang bersifat non-recurring. Namun, menurutnya, pelemahan bisnis brand deal tetap menjadi perhatian karena berasal dari kondisi pasar. Penjelasan serupa juga disampaikan manajemen dalam prospektus.

Di sisi lain, Raymond mencatat sejumlah indikator keuangan masih menunjukkan kondisi yang relatif sehat. Saldo kas meningkat menjadi sekitar Rp100,13 miliar pada akhir 2025, total liabilitas turun menjadi Rp120,23 miliar, sementara margin laba kotor meningkat menjadi 43,21% dari 38,79% pada tahun sebelumnya.

Menurutnya, aspek lain yang harus menjadi perhatian investor adalah risiko ketergantungan bisnis terhadap figur Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Ia menyebut risiko tersebut bukan sekadar asumsi pasar, melainkan telah diungkap secara eksplisit dalam prospektus perusahaan.

Prospektus menyebut risiko utama Perseroan adalah ketergantungan terhadap Raffi Ahmad, Nagita Slavina, dan keluarga sebagai talent utama, sehingga penurunan keterlibatan maupun isu reputasi berpotensi memengaruhi kinerja usaha dan keuangan perusahaan.

Raymond menilai manajemen telah mulai mengantisipasi risiko tersebut melalui diversifikasi bisnis. Berdasarkan rencana penggunaan dana IPO, sekitar 18,64% dana akan digunakan untuk pembangunan taman bermain edukatif Cipungland, sekitar 8,15% dialokasikan membentuk perusahaan patungan di bidang teknologi berbasis kecerdasan artifisial (AI), sekitar 19,8% untuk akuisisi PT Rans Kosmetika Indonesia, sedangkan 37,61% digunakan mendukung penyelenggaraan konser di berbagai kota di Indonesia.

Baca Juga: IPO RANS Dianggap Tak Penuhi Aturan Free Float Baru, BEI Pasang Badan

Baca Juga: Aturan Free Float BEI Minimal 25%, Mengapa IPO RANS Hanya Lepas 20%?

Baca Juga: IPO RANS Bongkar Daftar Pemegang Saham, Ada Nama Kaesang dan Bos Danantara

Ia juga menyoroti valuasi IPO RANS yang diperkirakan berada pada kisaran price to earnings ratio (PER) sekitar 30-38 kali berdasarkan harga penawaran. Menurut Raymond, valuasi tersebut berada jauh di atas rata-rata pasar sehingga keputusan investasi tidak cukup hanya didasarkan pada kekuatan merek dan popularitas pendirinya.

“IPO adalah angka gabung sama cerita. Tapi angka matters,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait: