Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Pengamat kebijakan publik Muhammad Said Didu menanggapi pernyataan pengamat politik Hendri Satrio (Hensat) yang menyebut safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) hanya untuk menguji popularitas.
Said Didu menolak anggapan tersebut. Menurutnya, safari politik Jokowi ke berbagai daerah bukan sekadar agenda pribadi, melainkan gerakan kelompok tertentu yang ingin kembali menikmati kekuasaan.
"Cuma? Ini adalah gerakan Geng SOP (Solo, Oligarki, Parcok) PLUS Koruptor, Judol, Bandar Narkoba, Penyelundup dan pelanggar hukum untuk merebut kekuasaan kembali yang pernah dinikmati saat Jokowi berkuasa. Jangan tertipu," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Senin (29/6).
Sebelumnya, Hensat menilai safari politik Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memiliki misi pribadi, salah satunya untuk menguji popularitas pasca lengser dari kursi presiden pada 2024.
"Memang ada misi pribadi menurut saya di Pak Jokowi. Yang pertama, mungkin dia ingin mengetes popularitas dia, kemudian dia ingin melihat juga dampak elektoral buat dirinya bagaimana," ujarnya, Minggu (28/6).
Ia menambahkan, pemilihan Lampung sebagai titik awal safari politik bukan tanpa alasan. Lampung dikenal sebagai salah satu kantong suara Jokowi pada Pilpres 2019.
Baca Juga: Safari Politik Jokowi di Lampung Sepi, PSI Gigit Jari
"Lampung tuh sebetulnya kan memang salah satu kantong suaranya Pak Jokowi, tapi memang untuk memulai sesuatu mungkin pak Jokowi punya pertimbangan-pertimbangan sendiri," ujar Hensa.
"Malah tadinya kalau Pak Jokowi ngobrol sama saya, saya sarankan yang pertama dia datangi harusnya IKN dulu, karena kan itu dia banget tuh," lanjutnya berseloroh.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: