Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Putin Akui Rusia Mulai Kekurangan BBM usai Digempur Ukraina, Serangan Kyiv Disebut Mulai Menggigit

Putin Akui Rusia Mulai Kekurangan BBM usai Digempur Ukraina, Serangan Kyiv Disebut Mulai Menggigit Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

Serangan berulang yang dilancarkan Ukraina ke berbagai fasilitas energi Rusia mulai memunculkan dampak yang diakui langsung oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. Untuk pertama kalinya, Putin menyebut negaranya mengalami kekurangan pasokan bahan bakar akibat gempuran yang menyasar infrastruktur vital.

Meski demikian, Putin menegaskan kondisi tersebut masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan. Menurutnya, gangguan pasokan bahan bakar memang terjadi, tetapi belum sampai mengancam stabilitas nasional.

Pengakuan itu menjadi sinyal bahwa strategi Ukraina menyerang fasilitas energi Rusia mulai memberikan tekanan terhadap rantai logistik dan distribusi bahan bakar di wilayah Rusia. Dalam beberapa pekan terakhir, Kyiv terus meningkatkan serangan drone dan rudal ke sejumlah kilang minyak serta fasilitas energi sebagai balasan atas serangan Rusia terhadap wilayahnya.

Dalam wawancara yang dipublikasikan Kremlin pada Minggu (28/6/2026), Putin mengakui serangan terhadap infrastruktur energi memang menimbulkan persoalan bagi Rusia.

"Mengenai serangan-serangan terhadap infrastruktur vital pada umumnya, dan infrastruktur energi secara khusus, tentu saja serangan-serangan terhadap infrastruktur kami ini menimbulkan masalah, hal itu sudah jelas," kata Putin.

Meski mengakui adanya dampak, Presiden Rusia itu berusaha meredam kekhawatiran dengan menyatakan situasi belum memasuki fase kritis.

"Saat ini kami memang melihat adanya kekurangan tertentu, namun kondisinya tidak kritis," ujarnya.

Salah satu serangan terbaru Ukraina bahkan memicu kebakaran besar di sebuah kilang minyak di kawasan tenggara Moskow. Insiden tersebut menyebabkan kepulan asap hitam membumbung tinggi dan menjadi simbol bahwa fasilitas energi Rusia kini semakin rentan terhadap serangan lintas batas.

Dampak paling nyata juga mulai dirasakan di wilayah Crimea yang dianeksasi Rusia pada 2014. Otoritas setempat telah menetapkan status darurat setelah terjadi kelangkaan bahan bakar dan pemadaman listrik akibat terganggunya jalur logistik energi.

Menghadapi situasi tersebut, Putin mengatakan pemerintah Rusia kini memprioritaskan penguatan sistem pertahanan udara guna melindungi fasilitas strategis, sekaligus memastikan distribusi bahan bakar tetap berjalan, terutama menuju Crimea.

Selain memperkuat pertahanan, Putin menegaskan pemerintah akan mengambil berbagai langkah untuk menjaga keamanan wilayah Rusia dari serangan yang terus meningkat.

"Iya, kami melihat masalah-masalah tersebut, kami menyadarinya dan sedang mengambil tindakan untuk mengatasinya, tetapi kami pastinya akan menjamin keamanan negara maupun warga negara kami, serta menjaga agar perbatasan Rusia tetap tak tergoyahkan," tegasnya saat berpidato di Kongres Partai Rusia Bersatu.

Putin juga menyebut serangan yang menghantam wilayah Rusia sebagai aksi teror terhadap fasilitas infrastruktur negara. Meski demikian, ia optimistis pemerintah mampu mengatasi tantangan tersebut.

"Kita tidak diragukan lagi akan mengatasi segala tantangan yang kita hadapi saat ini, termasuk serangan-serangan teroris terhadap wilayah dan fasilitas infrastruktur kita," lanjutnya.

Di tengah meningkatnya eskalasi perang, Putin tetap membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Ia berharap Amerika Serikat kembali memfokuskan perhatian pada proses negosiasi Rusia-Ukraina setelah ketegangan di Timur Tengah mereda.

Baca Juga: Mengaku Tekanan Luar Biasa Berat dari Negara Barat, Putin Tegaskan Rusia Mampu secara Ekonomi dan Militer

"Kami berharap setelah semua peristiwa selesai, setelah fase aktif di jalur Iran telah berlalu, kami akan melihat kedatangan perwakilan pemerintah AS yang telah berulang kali kami temui di Moskow," ujar Putin.

Ia menegaskan Rusia masih siap melanjutkan pembicaraan damai dan membahas berbagai detail penyelesaian konflik bersama pihak terkait.

"Kami siap untuk melanjutkan negosiasi dan siap untuk membahas semua detailnya," kata Putin menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya mendorong Rusia segera mencapai kesepakatan dengan Ukraina.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama