Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Safari Politik Lampung Jadi Sinyal Tutup Buku Koalisi Jokowi-Prabowo

Safari Politik Lampung Jadi Sinyal Tutup Buku Koalisi Jokowi-Prabowo Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Safari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke Provinsi Lampung memunculkan beragam tafsir politik. Salah satunya datang dari Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J Rachbini, Ph.D. Ia menilai langkah tersebut menjadi sinyal mulai berakhirnya koalisi politik antara Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Didik, keputusan politikus itu memulai safari politik ke berbagai daerah menunjukkan adanya pilihan jalur politik tersendiri yang berbeda dari arah pemerintahan saat ini. Kondisi itu dinilai berpotensi mengubah hubungan politik antara kedua tokoh tersebut.

Baca Juga: Penasihat Khamenei Murka ke Bahrain, Ancam Ambil Keputusan Lebih Keras di Perang Iran-Amerika

Didik mengingatkan janji yang pernah diucapkan oleh Jokowi. Ia, setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, sempat menyampaikan keinginan untuk menjalani kehidupan sebagai masyarakat biasa. Namun, perkembangan politik yang terjadi menunjukkan arah berbeda.

"Jokowi pernah berjanji pulang ke solo menjadi rakyat biasa dan berkumpul dengan cucu tetapi janji etis itu tidak pernah terjadi. Dari dulu publik apalagi pesaing politiknya tidak percaya dan kemudian terbukti sekarang melakukan gerakan politik vulgar sebagai tanda koalisi dengan pemerintahan saat ini akan mulai tutup buku," ungkap Didik, dikutip Selasa (30/6).

Dalam penilaiannya, safari politik tersebut memperlihatkan mantan presiden itu tetap aktif memainkan peran dalam dinamika politik nasional. Langkah itu dinilai berpotensi menciptakan persaingan baru di antara elite politik yang selama ini berada dalam lingkaran kekuasaan.

Menurut Didik, Jokowi dan Prabowo berisiko mengalami pelemahan apabila masing-masing mulai membangun basis politik secara mandiri menjelang kontestasi politik mendatang.

"Hubungan dan persekutuan keduanya semakin lemah, pasti secara politik bermasalah dan bahkan retak. Ada kemungkinan politik tidak solid dan akan mempengaruhi konstelasi politik dan persaingan elit selama beberapa tahun ke depan," kata Didik.

Ia menambahkan, apabila hubungan politik tersebut benar-benar mengalami keretakan, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan dalam konfigurasi kekuatan politik nasional, tetapi juga terhadap efektivitas pemerintahan dalam menjalankan berbagai agenda pembangunan.

Menurut Didik, perhatian pemerintah dapat terpecah apabila dinamika politik elite semakin intensif. Situasi tersebut dikhawatirkan mengganggu konsentrasi pemerintah dalam memenuhi berbagai janji politik, khususnya di bidang ekonomi.

"Konsentrasi pemerintah untuk menjalankan program ekonomi dalam rangka memenuhi janji politik akan terganggu. Krisis dan tekanan terhadap ekonomi nasional akan bertambah berat karena satu orang berpengaruh memainkan nafsu politik untuk kepentingan dirinya."

Safari Jokowi ke Lampung pun dipandang sebagai momentum penting yang membuka babak baru dalam hubungan politik nasional. Apakah benar menjadi penanda berakhirnya koalisi Jokowi dan Prabowo masih akan ditentukan oleh dinamika politik dalam waktu mendatang.

Baca Juga: Roy Suryo Bisa Lega, Sidang Praperadilan Kasus Ijazah Jokowi Tak Akan Lagi Diganggu Pihak Intervensi

Namun, menurut analisis Didik, arah perkembangan tersebut patut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi stabilitas politik sekaligus jalannya pemerintahan hingga beberapa tahun ke depan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar