Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Mobil Eks Operasional Perusahaan Banyak Diburu, Ini Cara Menjaga Harga Jual Tetap Tinggi

Mobil Eks Operasional Perusahaan Banyak Diburu, Ini Cara Menjaga Harga Jual Tetap Tinggi Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Proses peremajaan atau penjualan mobil operasional perusahaan kerap menjadi tantangan bagi tim internal. Alih-alih memperoleh dana segar yang optimal untuk kas perusahaan, banyak perusahaan justru harus menghadapi negosiasi alot dan menerima penawaran harga yang jauh di bawah ekspektasi.

Saat berhadapan dengan calon pembeli, baik showroom maupun pembeli perorangan (end user), perusahaan sering berada pada posisi yang kurang menguntungkan. Padahal, kendaraan eks-operasional perusahaan sebenarnya memiliki daya tarik tinggi di pasar mobil bekas.

Berdasarkan survei perilaku konsumen di pasar mobil bekas nasional, sekitar 65–70 persen calon pembeli, termasuk jaringan dealer, sangat tertarik pada mobil eks-perusahaan. Alasannya adalah legalitas dokumen yang jelas serta rekam jejak perawatan berkala yang umumnya lebih konsisten dan terjadwal dibanding kendaraan milik perorangan.

Meski demikian, tingginya minat pasar tersebut kerap terbentur oleh depresiasi nilai aset. Berdasarkan analisis industri otomotif dari lembaga riset global seperti Deloitte dan PwC, nilai kendaraan operasional dapat menyusut 15–20 persen pada tahun pertama. Nilainya kemudian terus menurun mengikuti Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) di Indonesia hingga menyisakan sekitar 50 persen dari harga perolehan saat memasuki tahun kelima pemakaian.

Pada fase inilah berbagai trik negosiasi sering digunakan pembeli untuk menekan harga serendah mungkin dengan menyoroti tanda-tanda pemakaian fisik kendaraan, meskipun dari sisi legalitas dan riwayat perawatan mobil tersebut sangat diminati pasar.

"Banyak perusahaan sebenarnya kehilangan nilai puluhan juta rupiah bukan karena mobilnya jelek, tetapi karena mereka tidak memiliki data yang dapat membuktikan kondisi kendaraan secara profesional. Akibatnya, harga terus ditekan saat proses negosiasi," ujar Ardy Alam, CEO Garasi.id.

Baca Juga: Nilai Mobil Bekas Perusahaan Bisa Turun Rp50 Juta, Ini Penyebabnya

Empat Titik Kritis yang Sering Dijadikan Alasan Menekan Harga

Bagi perusahaan yang ingin menjual kendaraan operasional berusia 4–5 tahun, memahami area yang paling sering menjadi bahan negosiasi pembeli merupakan langkah penting. Berikut beberapa titik kritis yang perlu diperhatikan:

1. Struktur Bodi dan Tulang Sasis (Indikasi Tabrakan)
Pembeli profesional biasanya sangat jeli memeriksa kelurusan panel bodi, bekas pengelasan, hingga ketebalan cat yang tidak merata. Jika ditemukan indikasi benturan, meskipun hanya perbaikan ringan, hal tersebut sering dijadikan alasan untuk memangkas harga jual hingga puluhan juta rupiah.

2. Kesehatan Transmisi Otomatis
Mobil operasional yang rutin menghadapi kemacetan panjang berisiko mengalami keausan pada sistem transmisi. Gejala ringan seperti perpindahan gigi yang terasa terlambat atau sedikit menghentak kerap dijadikan dasar untuk meminta potongan harga besar dengan alasan biaya perbaikan transmisi yang tinggi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman