Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Qatar Jadi Saksi, Amerika Serikat Klaim Ada Perubahan Besar dari Iran di Doha

Qatar Jadi Saksi, Amerika Serikat Klaim Ada Perubahan Besar dari Iran di Doha Kredit Foto: Gemini/Wahyu Pratama
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ada harapan baru terhadap terciptanya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa ada perkembangan positif dalam perundingan yang berlangsung di Doha, Qatar. Negara Teluk tersebut kembali menjadi tuan rumah sekaligus mediator penting dalam upaya meredakan ketegangan yang selama ini membayangi kawasan Timur Tengah.

Trump mengatakan hubungan antara kedua pihak kini berjalan jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Ia juga menyebut pembahasan mengenai program nuklir Iran mengalami kemajuan setelah serangkaian pertemuan yang digelar di ibu kota Qatar.

Baca Juga: Saat Negosiasi Berjalan, Amerika Serikat Bikin Minyak Iran Tak Laku di Pasar Dunia

"Kami berhubungan dengan sangat baik. Denuklirisasi Iran berjalan dengan baik. Mereka telah mengadakan pertemuan yang sangat baik, dan kita lihat saja nanti," kata Trump, dikutip Kamis (2/7).

Menurut Trump, Iran telah menunjukkan perubahan sikap yang signifikan selama proses diplomasi berlangsung.

"Iran telah berkembang jauh. Saya pikir mereka baik-baik saja," ujarnya.

Qatar, di balik proses negosiasi tersebut, memainkan peran sentral sebagai mediator bersama Pakistan. Kedua negara memfasilitasi komunikasi antara kedua belah pihak guna mencari titik temu atas sejumlah isu strategis yang selama ini menjadi sumber konflik.

Salah satu agenda utama pembicaraan teknis adalah membahas kelancaran pelayaran di Selat Hormuz. Ia merupakan jalur perdagangan energi paling penting di dunia, dimana kedua pihak mengupayakan terciptanya gencatan senjata yang bersifat lebih permanen.

Adapun Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menegaskan pemerintahnya tetap mengutamakan jalur diplomasi, namun membuka kemungkinan langkah militer terhadap Iran.

Menurutnya, hal itu bisa kembali diambil jika musuh melakukan tindakan yang dianggap mengancam keamanan kawasan. Ia menyebut keputusan mengenai kemungkinan operasi militer berikutnya akan sangat bergantung pada tindakan Iran.

"Saya tidak bisa memberikan komitmen apa pun karena semuanya bergantung pada apa yang pada akhirnya akan dilakukan Iran," kata Vance.

Meski demikian, ia menegaskan pemerintah tidak memiliki keinginan mengirim kembali pasukan mereka tanpa alasan yang jelas.

"Yang bisa saya pastikan adalah presiden tidak akan mengirim militer kami kembali kecuali memang diperlukan dan memiliki tujuan yang jelas," ujarnya.

Vance menambahkan, pihaknya tetap akan mengedepankan penyelesaian melalui perundingan selama ada itikad baik dari Iran. Namun, menurutnya, perhitungan pihaknya dapat berubah apabila musuh kembali membangun program nuklirnya atau mengganggu pelayaran komersial di Selat Hormuz.

"Saat ini, yang dikatakan presiden adalah buatlah kesepakatan, lakukan negosiasi dengan itikad baik. Itulah yang kami lakukan sekarang," kata Vance.

Baca Juga: Ekspresi Jokowi Jadi Sorotan Saat Bertemu Jusuf Kalla, Polemik Ijazah Palsu Kembali Disinggung

Pernyataan Trump dan Vance memperlihatkan bahwa jalur diplomasi masih menjadi pilihan utama kedua negara. Dengan Qatar yang kembali berperan sebagai mediator, hasil perundingan kini menjadi salah satu penentu penting bagi peluang terciptanya stabilitas dan perdamaian yang lebih berkelanjutan di Timur Tengah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar