Ngaku Digaji Rp2,6 Juta, Dosen UNAIR Diingatkan Ucapan Prabowo: Uangnya Gak Ada
Kredit Foto: Unsplalsh/Towfiqu barbhuiya
Mantan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Ardianto Satriawan menyoroti kesaksian dosen Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Cenuk Widiyastrisna Sayekti, yang mengaku hanya menerima gaji pokok Rp2,6 juta per bulan meski telah mengabdi belasan tahun.
Ardianto menyampaikan keprihatinan dan meminta Cenuk untuk bersabar. Ia bahkan mengutip pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal gaji guru dan PNS yang tidak bisa baik karena uang negara tidak ada.
"Sabar ya Bu. Uangnya gak adaaaaa," tulis Ardianto di akun X pribadinya, dikutip Jumat (3/7).
Kesaksian Cenuk disampaikan dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen di Mahkamah Konstitusi, Selasa (30/6/2026).
Sambil terisak, ia mengatakan hanya menerima gaji pokok Rp2,6 juta per bulan meski telah menyelesaikan pendidikan doktor (S3) di Macquarie University, Australia, sejak 2016.
"Ketika mulai bekerja di Universitas Airlangga, gaji pokok yang saya terima adalah sekitar Rp2.600.000 per bulan. Artinya, setelah belasan tahun berkarier sebagai dosen, menempuh pendidikan doktor dan mendapatkan serdos, sertifikasi pendidik, penghasilan dasar saya sebagai dosen tetap masih berada pada tingkat yang sangat terbatas," ujar Cenuk.
Sementara itu, dalam acara penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026), Prabowo menyebut gaji guru dan PNS tidak bisa baik karena uang negara tidak ada. Menurutnya, kebocoran kekayaan negara membuat anggaran tidak cukup.
"Saya ingin sampaikan dalam forum ini karena saya ingin saudara-saudara NU sebagai pemimpin, sebagai ulama, sebagai guru, sebagai pembimbing rakyat, harus mengerti kenapa gaji guru tidak bisa baik, kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik, kenapa anggaran selalu kurang, iya kan, karena uangnya nggak ada, diambil terus, saudara-saudara," kata Prabowo.
Baca Juga: Diakui Prabowo, Bali Kian Dilirik Jadi Pusat Finansial Internasional: Kita Cari Tempat Paling Nyaman
Menurut perhitungan para ahli, kebocoran negara mencapai sekitar Rp2.500 triliun per tahun. Prabowo menegaskan pemerintah sedang berupaya memperbaiki masalah tersebut.
"Kebocoran kita hitung, para ahli hitung sekarang adalah kurang lebih 150 miliar (USD) tiap tahun, Rp 2.500 triliun tiap tahun, saudara-saudara sekalian. Dan ini sedang saya perbaiki semua," ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: