Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

DEN Sebut RI Butuh US$5 Miliar untuk Bangun Cadangan Penyangga Energi

DEN Sebut RI Butuh US$5 Miliar untuk Bangun Cadangan Penyangga Energi Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, mengatakan kebutuhan investasi untuk membangun cadangan penyangga energi (CPE) dengan kapasitas sekitar 30 kali volume impor diperkirakan mencapai US$5 miliar.

Rencana tersebut berkaitan dengan pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2024 tentang Cadangan Penyangga Energi. Satya menyebut, regulasi ini tengah dibahas untuk direvisi, terutama terkait skema pemenuhan dan pembiayaan CPE.

Adapun dalam hitungan Satya, jika merujuk pada volume impor minyak saat ini yang berada di kisaran 1 juta barel per hari, kapasitas penyimpanan yang dibutuhkan mencapai sekitar 30 juta barel.

“Kita membutuhkan anggaran sampai 5 miliar dolar AS kalau kita mau membuat storage yang kira-kira besarnya 30 kali volume impor. Jadi, kalau kita lihat impor kita 1 juta barel, berarti harus ada storage 30 juta barel,” ujar Satya dalam Energy Hub Talkshow di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Terkait kebutuhan anggaran tersebut, Satya menyebut pembiayaan dan penyediaan infrastruktur CPE tidak harus sepenuhnya ditanggung oleh negara. Menurutnya, negara tetap dapat mengambil posisi dominan, sementara keterlibatan swasta dimungkinkan melalui skema kerja sama yang diatur pemerintah.

“Kalau itu dibebankan penuh oleh negara, pembiayaannya besar sekali. Maka, posisi negara nanti dominan di situ, tetapi kepemilikan swasta dimungkinkan,” tambahnya.

Satya melanjutkan, kapasitas penyimpanan tersebut dapat dibagi ke dalam beberapa bentuk, antara lain minyak mentah atau crude oil serta bahan bakar minyak (BBM) dan produk olahan. Namun, ia menegaskan bahwa skema tersebut masih dalam tahap pembahasan.

“Kalau kita lihat impor kita 1 juta barel, berarti harus ada storage 30 juta barel, tetapi terbagi. Mungkin 10 jutanya dalam bentuk crude, sisanya dalam bentuk BBM, dalam bentuk produk. Nah, ini sekarang memang sedang kita diskusikan untuk CPE,” ujarnya.

Baca Juga: Presiden Prabowo Dampingi PM Modi Teken Kerja Sama Konservasi Candi Prambanan

Baca Juga: Mengintip Desa Energi Berdikari Pertamina yang Mampu Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah akan membangun fasilitas penyimpanan minyak untuk memperkuat ketahanan pasokan energi nasional. Pembangunan fasilitas tersebut ditargetkan mulai dilakukan tahun ini di Pulau Sumatra.

“Faktanya ketahanan energi kita, storage kita itu maksimal di angka 25 sampai 26 hari, enggak lebih dari itu. FS (feasibility study) lagi berjalan, dan di tahun ini pembangunannya sudah mulai dilakukan. Lokasinya di daerah Sumatra,” ujar Bahlil di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra