Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

DEN Dorong Audit Teknologi PLTU, Jangan Hanya Salahkan Kualitas Batu Bara

DEN Dorong Audit Teknologi PLTU, Jangan Hanya Salahkan Kualitas Batu Bara Kredit Foto: PLTU 7 Jawa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dewan Energi Nasional (DEN) meminta pemerintah melakukan audit teknologi terhadap pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Indonesia.

Langkah tersebut dinilai penting karena penurunan kinerja sejumlah pembangkit tidak hanya dipengaruhi kualitas batu bara, tetapi juga kondisi teknis pembangkit yang telah beroperasi selama puluhan tahun.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha, mengatakan berdasarkan pengamatan DEN, sejumlah PLTU di sistem Jawa yang telah beroperasi sekitar 40 tahun mengalami penurunan daya mampu. Akibatnya, kapasitas listrik yang benar-benar dapat dibangkitkan (available capacity) kini lebih rendah dibandingkan kapasitas terpasang (installed capacity).

"Jadi itu menurut hemat saya perlu apa namanya kita coba cermati, maka audit teknologi untuk masing-masing PLTU itu diperlukan pak supaya kita mengetahui secara pasti karakteristiknya gitu ya," kata Satya dalam Energy Hub Talkshow, Selasa (7/7/2026).

Menurut Satya, penurunan daya mampu tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari usia pembangkit, kualitas pemeliharaan, hingga kondisi teknologi yang digunakan.

"Jadi itu harus kita masukkan di dalam evaluasi dari seluruh kemampuan daripada PLTU di Indonesia. Nah kenapa daya mampunya lebih rendah daripada install capacity karena berbagai macam faktor, di samping usia, maintenance, dan lain sebagainya," ujarnya.

Temuan tersebut, lanjut Satya, telah disampaikan kepada Direksi PT PLN (Persero). DEN pun mendorong dilakukan audit teknologi terhadap setiap unit pembangkit agar penyebab penurunan kinerja dapat dipetakan secara menyeluruh dan menjadi dasar perbaikan ke depan.

Menurutnya, audit teknologi diperlukan agar pemerintah memperoleh gambaran utuh mengenai kondisi teknis setiap PLTU. Dengan demikian, penyebab penurunan kinerja dapat dipastikan secara lebih objektif, baik berasal dari faktor bahan bakar, usia aset, sistem pemeliharaan, maupun teknologi pembangkit itu sendiri.

Di sisi lain, Satya mengatakan isu penggunaan batu bara kalori menengah (medium rank coal) memang sempat menjadi perhatian sejumlah pengembang pembangkit listrik swasta (independent power producer atau IPP). Menurutnya, para pengembang menginginkan pasokan batu bara tetap sesuai spesifikasi yang tercantum dalam kontrak agar tidak memengaruhi kinerja pembangkit.

"Jadi apapun dia (IPP) pengen kontraknya di-honor kan begitu jadi apa supaya kalorinya sesuai dengan apa yang ada di tertara dalam kontrak," ujarnya.

Meski demikian, Satya mengingatkan penggunaan batu bara yang tidak sesuai spesifikasi desain PLTU juga berisiko mempercepat penurunan performa pembangkit. Karena itu, spesifikasi bahan bakar yang telah ditetapkan dalam kontrak harus tetap dipenuhi.

Baca Juga: DEN Minta Data QRIS hingga E-Commerce Jadi Penilaian, Agar Lebih Banyak UMKM Lolos Kredit Bank

Baca Juga: Gandeng Danantara, Proyek Waste to Energy di Pedungan Denpasar Serap 1.200 Green Jobs

"Nah ini tidak boleh ya melanggar misalkan spek dari pada batu bara yang ditentukan untuk PLTU tersebut karena kalau dilakukan apa hal-hal yang mungkin out of spec itu akan menurunkan kemampuan daya mampu mereka," tuturnya.

Meski begitu, ia menegaskan kualitas batu bara bukan satu-satunya faktor yang menentukan keandalan PLTU. Menurutnya, seluruh aspek teknis perlu dievaluasi secara bersamaan agar penyebab penurunan kinerja pembangkit dapat diidentifikasi secara tepat.

"Karena apa? yang beredar sekarang ini di publik kan tidak terlalu clear ya sebetulnya apa yang terjadi gitu maka paling tidak, kita tidak bisa cuma blaming dari sisi batu baranya saja tetapi aspek teknis juga harus menjadi satu kesatuan di dalam evaluasi kita ke depan," pungkas Satya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra