Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Jantung yang Tak Pernah Tidur: Menjaga Denyut Energi dari SKG Tegal Gede ke Kawasan Industri Jawa Barat

Jantung yang Tak Pernah Tidur: Menjaga Denyut Energi dari SKG Tegal Gede ke Kawasan Industri Jawa Barat Kredit Foto: Pertagas
Warta Ekonomi, Jakarta -

Deru mesin terdengar konstan sesaat setelah kaki melangkah memasuki kawasan Stasiun Kompresor Gas (SKG) Tegal Gede di Cikarang, Jawa Barat. Suaranya tidak memekakkan telinga, tetapi cukup untuk menandakan bahwa di balik pagar pembatas dan deretan pipa baja berdiameter besar, sebuah sistem tengah bekerja tanpa mengenal waktu.

Tidak ada kobaran api ataupun kepulan asap seperti yang lazim dibayangkan ketika berbicara mengenai industri migas. Terlihat justru jaringan perpipaan yang tersusun rapi, katup-katup baja berukuran besar, panel kendali, serta empat unit kompresor yang menjadi "jantung" fasilitas tersebut. Seluruh peralatan itu bekerja dalam ritme yang nyaris tidak pernah berhenti, siang maupun malam.

Di tempat inilah tekanan gas bumi dijaga agar tetap mampu mengalir melintasi ratusan kilometer jaringan transmisi menuju pembangkit listrik, kawasan industri, hingga jaringan gas rumah tangga di Jawa Barat.

Bagi sebagian orang, SKG Tegal Gede mungkin hanya satu titik kecil di antara ribuan fasilitas energi yang tersebar di Indonesia. Namun bagi sistem distribusi gas nasional, keberadaan stasiun kompresor ini ibarat pompa yang memastikan darah terus mengalir ke seluruh tubuh.

Ketika tekanan gas turun, aliran menuju pelanggan ikut melemah. Sebaliknya, ketika tekanan tetap terjaga, listrik terus diproduksi, mesin-mesin pabrik tetap beroperasi, dan aktivitas ekonomi berjalan sebagaimana mestinya. Peran itulah yang dijalankan SKG Tegal Gede setiap hari.

Fasilitas milik PT Pertamina Gas (Pertagas) ini berada di bawah pengelolaan Operation West Java Area (OWJA), wilayah operasi yang mengelola sistem transmisi gas di Jawa Barat. Sistem tersebut membentang sekitar 543 kilometer dengan diameter pipa mulai 6 inci hingga 32 inci, menjadikannya salah satu jaringan transmisi gas terpenting di Pulau Jawa. 

Gas yang masuk ke SKG Tegal Gede berasal dari berbagai sumber. Sebagian diproduksi dari lapangan migas domestik milik Pertamina EP dan PHE Offshore North West Java (ONWJ), sebagian lagi berasal dari BBG Jatinegara, sementara pasokan tambahan datang dari hasil regasifikasi LNG Nusantara Regas. Seluruh pasokan itu bertemu di jaringan transmisi sebelum tekanannya dinaikkan di SKG Tegal Gede untuk kembali didorong menuju pelanggan di berbagai sektor. 

Di ruang kontrol, operator terus memantau perubahan tekanan, temperatur, hingga laju aliran gas secara real time. Setiap angka yang muncul di layar memiliki arti penting. Selisih tekanan yang terlalu rendah dapat memengaruhi kemampuan gas menjangkau pelanggan di hilir, sedangkan tekanan yang terlalu tinggi juga tidak dapat dibiarkan tanpa pengendalian.

Karena itulah keberadaan stasiun kompresor menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem transmisi gas.

Head of District Tegal Gede, Fari Akhdiar Rachmad, menjelaskan empat unit kompresor yang dimiliki fasilitas tersebut masing-masing memiliki kapasitas 70 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD). Dengan konfigurasi tersebut, jaringan di wilayah Tegal Gede dirancang mampu beroperasi hingga sekitar 90 persen dari kapasitas desain pipa sebesar 350 MMSCFD.

"Kapasitas pipa totalnya mendesain angka hingga 350 MMSCFD, sehingga dengan unit kompresor yang ada, kami siap mengoperasikan jaringan hingga 90 persen dari total kapasitas pipa tersebut," ujarnya saat ditemui dalam kunjungan media di Cikarang, Rabu (8/7/2026).

Saat ini volume gas yang melintasi SKG Tegal Gede berkisar 80 MMSCFD. Setelah dikompresi, sebagian gas disalurkan kepada pelanggan di sekitar kawasan industri Bekasi dan Karawang, sementara sisanya diteruskan menuju Stasiun Kompresor Gas Bitung sebagai bagian dari sistem transmisi yang saling terhubung.

Dari luar, angka-angka tersebut mungkin terdengar sekadar data teknis. Namun di baliknya terdapat pasokan energi bagi pembangkit listrik PT PLN (Persero) dan Cikarang Listrindo, industri pupuk PT Pupuk Kujang, pabrik kertas Fajar Surya Wisesa, produsen baja Tata Metal Lestari, hingga jaringan gas rumah tangga di Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, dan Depok.

Mereka mungkin tidak pernah melihat bagaimana gas itu dipompa. Namun setiap hari, energi yang menggerakkan turbin, menyalakan tungku produksi, hingga mengalir ke kompor rumah tangga, lebih dulu melewati "denyut" yang dijaga oleh SKG Tegal Gede.

Perjalanan Sunyi Sang Energi

Gas bumi tidak pernah memilih jalan yang mudah. Jauh sebelum menghidupkan turbin pembangkit listrik atau menyalakan tungku produksi di kawasan industri Cikarang, gas harus menempuh perjalanan panjang dari perut bumi. Sebagian berasal dari lapangan migas yang dioperasikan Pertamina EP, sebagian lagi diproduksi dari wilayah kerja PHE Offshore North West Java (ONWJ).

Ketika pasokan domestik memerlukan tambahan, gas alam cair (LNG) diregasifikasi di fasilitas Nusantara Regas agar kembali berubah menjadi gas dan dapat masuk ke jaringan transmisi. Seluruh sumber pasokan itu kemudian bertemu dalam satu sistem yang saling terhubung sebelum diteruskan menuju pelanggan. 

Namun perjalanan tersebut tidak berhenti ketika gas memasuki pipa.

Di sinilah Stasiun Kompresor Gas (SKG) Tegal Gede memainkan peran yang sering kali luput dari perhatian publik. Berbeda dengan pipa yang hanya menjadi jalur distribusi, stasiun kompresor berfungsi menjaga agar gas tetap memiliki energi yang cukup untuk melaju hingga ratusan kilometer. Tanpa tekanan yang memadai, laju gas akan menurun dan kemampuan memasok pelanggan di hilir ikut terganggu.

"Kalau diibaratkan tubuh manusia, pipa adalah pembuluh darahnya. Nah, kompresor adalah jantung yang menjaga aliran darah itu tetap mengalir," ujar salah seorang operator saat menunjukkan deretan pipa dan peralatan kompresi di area operasi.

Analogi itu terasa masuk akal ketika melihat langsung kompleks SKG Tegal Gede. Pipa-pipa berdiameter besar saling bertaut, menghubungkan manifold, katup pengatur, hingga unit kompresor. Setiap molekul gas yang melewati fasilitas ini mengalami proses peningkatan tekanan sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju pelanggan.

Fasilitas ini menerima gas dari pipa transmisi berdiameter 24 inci yang terhubung dengan SKG Cilamaya dan sistem South Sumatera-West Java (SSWJ) milik PGN, serta pipa 32 inci dari ruas Citarik. Setelah dikompresi, gas kembali mengalir melalui jaringan transmisi menuju kawasan industri dan diteruskan ke SKG Bitung sebagai bagian dari sistem distribusi Jawa Barat. 

Baca Juga: DEN Sebut RI Butuh US$5 Miliar untuk Bangun Cadangan Penyangga Energi

Baca Juga: Mengintip Desa Energi Berdikari Pertamina yang Mampu Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Jaringan tersebut membentang sekitar 543 kilometer, mulai dari wilayah barat hingga timur Jawa Barat. Di sepanjang jalur itu, gas tidak hanya menghidupi satu atau dua pelanggan. Ia menjadi sumber energi bagi pembangkit listrik, industri pupuk, manufaktur, hingga jaringan gas rumah tangga. 

Head of District Tegal Gede, Fari Akhdiar Rachmad, mengatakan kapasitas desain jaringan di wilayah ini mencapai 350 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD). Empat unit kompresor yang masing-masing berkapasitas 70 MMSCFD memungkinkan sistem beroperasi hingga sekitar 90 persen dari kapasitas tersebut.

Meski saat ini volume gas yang melewati SKG Tegal Gede berada di kisaran 80 MMSCFD, kapasitas yang tersedia memberikan ruang bagi peningkatan pasokan di masa mendatang, seiring bertambahnya kebutuhan industri maupun masuknya sumber gas baru.

Bagi kawasan industri seperti Cikarang, Karawang, Purwakarta hingga Bekasi, keberadaan jaringan ini menjadi bagian dari infrastruktur dasar yang nyaris tidak terlihat. Ketika listrik menyala, mesin produksi beroperasi, dan ribuan pekerja menjalankan aktivitasnya setiap hari, hanya sedikit yang menyadari bahwa seluruh rantai kegiatan tersebut bergantung pada kestabilan tekanan gas yang dijaga dari sebuah fasilitas di Tegal Gede.

Gas yang melewati SKG Tegal Gede kemudian mengalir menuju berbagai pelanggan strategis. Di sektor kelistrikan, pasokan diterima oleh PT PLN (Persero) dan Cikarang Listrindo. Di sektor pupuk, gas menjadi bahan baku utama bagi PT Pupuk Kujang.

Sementara di sektor manufaktur, alirannya menopang kegiatan produksi perusahaan seperti Fajar Surya Wisesa dan Tata Metal Lestari. Bahkan, sebagian gas juga mengalir ke jaringan gas rumah tangga di Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, hingga Depok.

Di balik seluruh aktivitas itu, tidak ada seremoni ketika gas berhasil tiba di tujuan. Tidak ada lampu peringatan ketika tekanan berhasil dijaga tetap stabil. Sistem bekerja dalam diam, tetapi justru kesenyapan itulah yang menjadi indikator bahwa seluruh rantai distribusi energi berjalan sebagaimana mestinya.

Dan ketika satu molekul gas berhasil mencapai kompor rumah tangga atau ruang bakar sebuah pembangkit listrik, perjalanan panjangnya sesungguhnya telah melewati puluhan katup, ratusan kilometer pipa, serta satu "jantung" yang tak pernah berhenti berdetak: SKG Tegal Gede.

Warisan Infrastruktur dari Era 1970-an

Sulit membayangkan bahwa ketika pipa-pipa baja itu mulai ditanam di tanah Jawa Barat pada pertengahan 1970-an, kawasan industri Cikarang bahkan belum lahir seperti yang dikenal saat ini.

Kala itu, hamparan sawah masih mendominasi sebagian besar wilayah utara Jawa Barat. Jalan tol Jakarta-Cikampek baru mulai berkembang, sementara kawasan industri modern yang kini dipenuhi pabrik otomotif, elektronik, makanan hingga baja belum menjadi penggerak ekonomi nasional.

Namun di tengah situasi tersebut, sebuah fondasi penting sedang dibangun.

Pemerintah melalui Pertamina mulai mengembangkan sistem pipa Open Access Cilegon–Cirebon pada periode 1974 hingga 1978. Proyek itu tidak hanya membangun jalur perpipaan, tetapi juga melahirkan sejumlah stasiun kompresor, termasuk SKG Tegal Gede, SKG Bitung, SKG Cilamaya, dan SKG Mundu. 

Seiring meningkatnya kebutuhan energi, jaringan itu terus berkembang. Berbagai ruas pipa baru dibangun untuk menghubungkan pusat-pusat produksi gas dengan kawasan konsumsi. Catatan Pertagas menunjukkan pembangunan berlangsung bertahap, mulai dari ruas Citarik–Dawuan, Cilamaya–Citarik, hingga berbagai jalur distribusi lain yang memperkuat sistem transmisi di Jawa Barat. 

Senior Supervisor Operation Control Station Pertagas, Rilda Nugroho, mengatakan infrastruktur tersebut merupakan bagian dari sejarah panjang pengelolaan transmisi gas di Indonesia.

"Pipanya sendiri bahkan sudah mulai dibangun sejak era 1974 hingga 1978 melalui pembangunan sistem pipa Open Access Cilegon–Cirebon. Ini merupakan bagian dari transisi dari divisi transmisi gas lama Pertamina Group yang kemudian dialihkan pengelolaannya kepada Pertagas," ungkap Rilda.

Pengoperasian jaringan transmisi dilakukan oleh Divisi Utilisasi Gas Pertamina sejak 1989, sebelum akhirnya pengelolaan aset dialihkan kepada Pertagas pada 2008, menyusul restrukturisasi sektor migas pasca lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001. 

Perjalanan panjang itu memperlihatkan bahwa infrastruktur energi memiliki umur yang jauh melampaui pergantian pemerintahan, siklus ekonomi, bahkan generasi pekerja yang mengoperasikannya.

Selama hampir lima dekade, jaringan tersebut tetap menjalankan fungsi yang sama: menghubungkan sumber energi dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Hal yang berubah hanyalah para pelanggannya. Pada awal pembangunan, kebutuhan gas industri di Jawa Barat masih relatif terbatas. 

Baca Juga: Merajut Harapan di Ujung Timur Jawa, Pertamina Hadirkan Semangat Baru bagi Anak-Anak Banyuwangi

Kini, jalur yang sama menopang aktivitas manufaktur di salah satu kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Gas yang mengalir melalui SKG Tegal Gede menjadi bahan bakar pembangkit listrik, bahan baku industri pupuk, sumber energi pabrik kertas, baja, hingga berbagai sektor manufaktur yang menghasilkan produk untuk pasar domestik maupun ekspor.

Transformasi itu menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur energi sering kali mendahului perkembangan wilayah yang dilayaninya. Pipa yang dibangun puluhan tahun lalu ternyata menjadi fondasi bagi tumbuhnya kawasan industri modern yang kini menjadi salah satu penggerak utama ekonomi nasional.

Warisan tersebut juga tercermin dari luasnya jaringan yang kini dikelola Pertagas. Secara nasional, perusahaan mengoperasikan hampir 3.000 kilometer jaringan pipa gas, termasuk 543 kilometer jaringan transmisi di Jawa Barat yang menjadi tulang punggung distribusi energi bagi kawasan industri di provinsi tersebut. 

Di tengah berkembangnya berbagai teknologi energi baru, keberadaan jaringan pipa yang dibangun sejak era 1970-an menjadi pengingat bahwa ketahanan energi nasional tidak hanya ditentukan oleh penemuan sumber daya baru. 

Ia juga bertumpu pada kemampuan menjaga infrastruktur lama agar tetap andal, aman, dan relevan menghadapi kebutuhan zaman.

Bagi para operator di SKG Tegal Gede, usia jaringan bukanlah sekadar angka. Setiap hari mereka memastikan aset yang telah melintasi beberapa generasi itu tetap bekerja dengan tingkat keandalan tinggi, sehingga energi terus mengalir tanpa disadari oleh jutaan masyarakat yang menikmatinya.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra