Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Jantung yang Tak Pernah Tidur: Menjaga Denyut Energi dari SKG Tegal Gede ke Kawasan Industri Jawa Barat

Jantung yang Tak Pernah Tidur: Menjaga Denyut Energi dari SKG Tegal Gede ke Kawasan Industri Jawa Barat Kredit Foto: Pertagas

Orang-Orang yang Menjaga Denyut Energi

Di ruang kendali SKG Tegal Gede, tidak ada riuh percakapan ataupun hiruk pikuk seperti di lantai produksi sebuah pabrik. Yang terdengar justru bunyi kipas pendingin, sesekali suara radio komunikasi, dan layar monitor yang terus menampilkan angka-angka tekanan, temperatur, serta laju aliran gas secara real time.

Bagi orang awam, deretan angka itu mungkin sulit dipahami. Namun bagi operator, setiap perubahan sekecil apa pun bisa menjadi sinyal yang harus segera direspons.

Mereka bekerja bergantian dalam sistem shift, memastikan tidak ada satu detik pun jaringan transmisi gas dibiarkan tanpa pengawasan. Di balik layar monitor itu, mereka mengawasi tekanan gas yang mengalir menuju pembangkit listrik, kawasan industri, hingga jaringan gas rumah tangga.

Pekerjaan tersebut menuntut ketelitian tinggi. Mengoperasikan stasiun kompresor bukan sekadar menyalakan mesin. Operator harus memastikan tekanan tetap berada dalam batas operasi yang aman, memantau performa kompresor, memeriksa kondisi katup dan pipa, hingga berkoordinasi dengan stasiun kompresor lain apabila terjadi perubahan pola aliran gas.

Semua dilakukan agar pelanggan di hilir tidak merasakan gangguan.

"Kalau sistem bekerja normal, masyarakat memang tidak akan tahu apa yang kami kerjakan. Justru itu yang kami harapkan," ujar salah seorang pekerja sambil mengamati layar pemantauan.

Kalimat sederhana itu menggambarkan filosofi yang dianut para pekerja infrastruktur energi: keberhasilan bukan diukur dari seberapa sering mereka terlihat, melainkan dari seberapa jarang sistem mengalami gangguan.

Filosofi tersebut tercermin pada catatan keselamatan kerja Operation West Java Area (OWJA). Hingga 30 Juni 2026, wilayah operasi ini membukukan 28.280.301 jam kerja selamat dan mempertahankan Zero Accident sejak 2007. Capaian itu menjadi salah satu indikator bahwa keandalan operasi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga disiplin manusia yang mengoperasikannya. 

Komitmen tersebut turut diakui melalui berbagai penghargaan, termasuk PROPER Emas selama dua tahun berturut-turut pada 2023 dan 2024, setelah sebelumnya belasan kali meraih PROPER Hijau. Penghargaan itu diberikan atas kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan yang melampaui kepatuhan terhadap regulasi. 

Namun, bagi para pekerja di lapangan, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Target utama mereka tetap sama: memastikan gas terus mengalir.

Sebab, ketika aliran gas berhenti, dampaknya tidak hanya dirasakan di satu lokasi. Rantai pasok energi bagi pembangkit listrik, industri pupuk, manufaktur, hingga pelanggan rumah tangga dapat ikut terganggu.

Karena itu, setiap kegiatan pemeliharaan dirancang dengan cermat. Pemeriksaan rutin dilakukan terhadap kompresor, sistem perpipaan, katup, instrumen pengukuran, hingga perangkat keselamatan. Seluruh pekerjaan mengikuti prosedur yang ketat untuk meminimalkan risiko terhadap pekerja maupun keandalan pasokan.

Di balik kecanggihan sistem digital yang kini membantu pemantauan operasi, keputusan akhir tetap berada di tangan manusia. Pengalaman membaca karakteristik peralatan, kemampuan mengenali anomali sejak dini, hingga koordinasi antartim menjadi faktor yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

Di sinilah letak paradoks sebuah infrastruktur energi. Semakin andal sistem bekerja, semakin sedikit orang yang menyadari keberadaannya.

Publik mengenal pembangkit listrik ketika lampu padam. Masyarakat memperhatikan jaringan gas ketika pasokan terhenti. Namun sangat sedikit yang mengetahui bahwa jauh sebelum energi sampai ke pelanggan, ada sekelompok operator yang berjaga sepanjang hari agar tekanan gas tetap stabil di sebuah stasiun kompresor di Cikarang.

Baca Juga: Pertamina Optimalkan Panas Bumi, Kamojang Catat Produksi Tertinggi

Mereka bekerja tanpa sorotan. Tidak menghasilkan produk yang bisa dipajang di etalase, tidak pula tampil di depan publik. Tetapi dari ruang kendali yang sunyi itu, mereka menjaga agar denyut energi bagi kawasan industri Jawa Barat tidak pernah berhenti.

Dari Tegal Gede Menuju Backbone Energi Nasional

Di tengah perbincangan mengenai transisi energi, pengembangan hidrogen, hingga teknologi penangkapan karbon, gas bumi masih memegang peran penting sebagai energi transisi. Dibandingkan batu bara dan minyak, gas menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah sehingga dipandang sebagai jembatan menuju bauran energi yang lebih bersih.

Namun, gas bumi tidak akan memberi manfaat tanpa infrastruktur yang mampu mengalirkannya dari sumber produksi ke pusat-pusat konsumsi.

Di sinilah peran sistem transmisi menjadi krusial.

Stasiun Kompresor Gas (SKG) Tegal Gede hanyalah satu titik di dalam jaringan tersebut, tetapi posisinya ibarat simpul yang menghubungkan berbagai sumber pasokan dengan kawasan industri di Jawa Barat. Dari fasilitas ini, gas tidak hanya mengalir ke pelanggan hari ini, tetapi juga disiapkan untuk menghadapi kebutuhan energi yang terus meningkat pada masa mendatang.

Pertagas sendiri mengelola jaringan transmisi gas yang membentang hampir 3.000 kilometer di berbagai wilayah Indonesia. Sistem tersebut menghubungkan Sumatera, Jawa, hingga Kalimantan melalui jaringan pipa transmisi, terminal regasifikasi LNG, fasilitas pengolahan LPG, serta infrastruktur transportasi energi lainnya. 

Di Jawa Barat, jaringan sepanjang 543 kilometer menjadi salah satu koridor terpenting karena melayani kawasan industri dengan konsumsi gas terbesar di Indonesia. 

Besarnya peran jaringan itu tercermin dari kinerja operasional perusahaan. Pada 2025, volume transportasi gas mencapai 582.724 MMSCF, tertinggi sejak Pertagas berdiri.

Di saat yang sama, volume transportasi minyak meningkat menjadi 63.806 barel, regasifikasi mencapai 56.463 BBTU, sementara pemrosesan LPG menembus 171.458 ton. Seluruh capaian tersebut menjadi rekor operasional perusahaan dan menunjukkan meningkatnya kebutuhan terhadap infrastruktur energi nasional. 

Namun, tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan capaian tersebut.

Pemerintah tengah membangun jaringan pipa transmisi yang semakin terintegrasi untuk menghubungkan sumber-sumber gas domestik dengan pusat konsumsi. Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah Cirebon–Semarang (Cisem), yang diproyeksikan memperkuat konektivitas jaringan gas di Pulau Jawa.

Ketika jaringan tersebut tersambung sepenuhnya, volume gas yang mengalir melintasi sistem transmisi berpotensi meningkat. Artinya, simpul-simpul seperti SKG Tegal Gede akan memegang peran yang semakin strategis sebagai pengatur tekanan dan keandalan pasokan.

Corporate Secretary Pertagas, Sulthani Adil Mangatur, mengatakan perusahaan telah menyiapkan infrastrukturnya untuk menghadapi perkembangan tersebut.

"Prinsipnya kami dari Pertagas selaku operator dan yang mengelola pipa sudah siap siaga, bilamana nanti ada volume gas tambahan yang dialirkan, maupun kesiapan dari sisi off-taker industri yang menyambut pasokan tersebut," jabarnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur energi bukan hanya soal membangun pipa baru. Lebih dari itu, keberhasilannya bergantung pada kesiapan sistem yang telah ada untuk menerima tambahan pasokan, menjaga tekanan tetap stabil, dan memastikan energi dapat sampai ke pengguna tanpa gangguan.

Di balik berbagai proyek strategis nasional, terdapat pekerjaan yang berlangsung setiap hari di fasilitas-fasilitas seperti SKG Tegal Gede. Tidak terlihat oleh publik, tetapi menjadi mata rantai yang menentukan apakah energi benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri.

Gas yang mengalir dari lapangan migas di lepas pantai, atau yang telah menempuh perjalanan panjang melalui terminal regasifikasi LNG, pada akhirnya akan melewati simpul-simpul seperti ini sebelum berubah menjadi listrik yang menyalakan rumah, panas yang menggerakkan tungku industri, atau bahan baku yang menghasilkan pupuk bagi sektor pertanian.

Karena itu, membangun ketahanan energi tidak hanya berarti menemukan cadangan gas baru atau membangun proyek berskala besar. Ketahanan energi juga berarti merawat, memperkuat, dan memodernisasi infrastruktur yang telah bekerja selama puluhan tahun agar tetap mampu menjawab kebutuhan generasi berikutnya.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra