Trump Mengamuk Lagi! Perdamaian dengan Iran Tamat, Dunia Dibayangi Perang Baru?
Kredit Foto: Istimewa
Harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memudar. Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan sementara yang sebelumnya menjadi dasar penghentian konflik telah berakhir, lalu memerintahkan serangan baru setelah Iran membalas dengan menargetkan fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah Amerika Serikat lebih dulu membombardir sejumlah target di Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Situasi tersebut kembali memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi pecahnya konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Lebih dari tiga pekan sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman untuk memulai gencatan senjata, kondisi di lapangan justru kembali memanas. Para analis menilai perkembangan ini memperlihatkan betapa sulitnya Trump mewujudkan kesepakatan damai yang bersifat menyeluruh.
Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai pilihan yang dimiliki Trump kini semakin terbatas. Jika kembali meningkatkan operasi militer, risiko pecahnya perang berskala penuh akan semakin besar.
Baca Juga: Sampai Lakukan Ini, Dokter Tifa Teriak Butuh Dana Banyak untuk Lawan Jokowi
Sebaliknya, jika memilih mundur, Iran dinilai bisa semakin yakin bahwa mereka mampu memanfaatkan pengaruhnya terhadap jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.
Trump disebut masih berharap tekanan militer dapat memaksa Teheran kembali ke meja perundingan untuk membahas program nuklir Iran yang menjadi salah satu tujuan utama pemerintahannya. Namun, banyak ahli menilai peluang Iran memberikan konsesi besar masih sangat kecil.
“Trump telah memojokkan dirinya sendiri,” kata Aaron David Miller, mantan negosiator Timur Tengah untuk pemerintahan Demokrat dan Republik. “Baik melalui cara militer maupun diplomatik, tampaknya dia tidak akan mendapatkan banyak keuntungan dari Iran.”
Para analis juga meragukan target penyelesaian dalam masa negosiasi 60 hari sebagaimana tercantum dalam dokumen kesepahaman dapat tercapai. Menurut mereka, isu-isu paling rumit justru ditunda ke pembahasan berikutnya, sementara kepastian putaran negosiasi selanjutnya masih belum jelas.
Baca Juga: PSI Berambisi Jadikan Jateng Kandang Gajah, Bambang Pacul Cuma Bilang Gini
Sementara itu, Iran menghadapi tekanan yang semakin berat setelah Washington mencabut pengecualian yang sebelumnya memungkinkan Teheran menjual minyak ke pasar internasional. Kebijakan tersebut menghilangkan salah satu keuntungan terbesar yang diperoleh Iran dari perjanjian sementara.
Meski demikian, kepemimpinan garis keras Iran dinilai masih bersedia menghadapi tekanan lanjutan. Bahkan, sebagian analis berpendapat aksi saling serang yang terjadi pekan ini bisa jadi merupakan upaya kedua pihak untuk memperkuat posisi tawar menjelang kemungkinan perundingan berikutnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: