Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Prabowo: Yang Ragu Duduk di Rumah Saja, yang Bilang Suram Silakan Cari Negara Lain

Prabowo: Yang Ragu Duduk di Rumah Saja, yang Bilang Suram Silakan Cari Negara Lain Kredit Foto: Youtube Sekretariat Kabinet
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan tegas kepada pihak-pihak yang masih memandang masa depan Indonesia secara pesimistis. Menurutnya, siapa pun yang merasa Indonesia suram dipersilakan mencari negara lain, sementara mereka yang memilih tetap berada di Indonesia diminta bersatu dan bergotong royong membangun bangsa.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan pidato pada Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional 2026 di Indonesia Arena, Jakarta, pada Minggu, (12/7/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa koperasi merupakan instrumen penting untuk memperkuat ekonomi masyarakat, terutama kalangan kecil. Ia mengibaratkan koperasi seperti sapu lidi yang akan menjadi kuat apabila bersatu.

"Koperasi adalah alatnya orang lemah, alatnya orang miskin. Tapi seperti sapu lidi, satu lidi itu lemah. Tapi bergabung itu kekuatan," kata Prabowo.

Ia optimistis gerakan koperasi Indonesia akan tumbuh menjadi salah satu pilar kekuatan ekonomi nasional. Menurutnya, penguatan koperasi juga akan memastikan perputaran uang tetap berada di dalam negeri dan dinikmati masyarakat.

Prabowo bahkan menyebut dirinya ingin melihat koperasi diisi oleh orang-orang yang berkomitmen membangun Indonesia, bukan pihak yang membawa modal ke luar negeri.

"Saya ingin lihat tampang-tampang koperasi ini. Muka-muka kalian, bukan muka orang yang bawa lari uang ke luar negeri," ujarnya.

Selain itu, Prabowo mengaku menerima laporan bahwa semakin banyak petani yang kini mampu berlibur ke luar negeri. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Ia menegaskan pemerintah ingin mewujudkan petani, nelayan, dan buruh yang lebih makmur melalui pembangunan ekonomi yang bertumpu dari desa hingga kabupaten.

"Ekonomi kita akan bangkit dari desa, kecamatan, kabupaten dan uangnya akan tinggal di desa, di kecamatan, di kabupaten. Kalau selama ini kekayaan rakyat Indonesia disedot, kita kembalikan. Sekarang ekonomi akan turun ke rakyat," kata Prabowo.

Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak bersikap anti terhadap perusahaan besar. Menurutnya, seluruh pelaku ekonomi memiliki peran penting dalam pembangunan nasional.

"Indonesia ini negara besar. Kita butuh koperasi, kita butuh UMKM, kita butuh swasta, kita butuh BUMN, BUMD. Kita butuh semuanya. Ini harus menjadi kekuatan ekonomi," ujarnya.

Prabowo menjelaskan konsep tersebut sebagai "Indonesia Incorporated", yakni sinergi seluruh kekuatan ekonomi nasional untuk mendorong pertumbuhan yang merata.

Ia juga menegaskan bahwa penguatan koperasi bukan berarti melemahkan sektor ekonomi lainnya.

"Kalau kita memperkuat koperasi bukan berarti kita akan memperlemah yang lain. No. Kita perkuat semuanya," tegasnya.

Di akhir pidatonya, Prabowo kembali menyampaikan pesan kepada pihak-pihak yang masih meragukan masa depan Indonesia. Ia meminta masyarakat yang ingin membangun bangsa untuk tetap bersatu dan bekerja sama.

Baca Juga: Makin Banyak Investor Asing Mendekat ke Danantara, Rosan Ungkap Peran Prabowo

"Indonesia kaya. Indonesia akan bangkit dan Indonesia akan mampu memperkuat semua kekuatan di Republik Indonesia ini. Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah aja. Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang," kata Prabowo.

Ia kemudian mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat semangat gotong royong.

"Kalau di Indonesia, mohonlah mari kita bersatu, mari kita gotong-royong, mari kita kerja sama. Yang kuat bantu yang lemah, yang lemah kerja sama yang baik. Insyaallah kita akan bangkit," tutupnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat