Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Melonjak Hampir 2% Usai S&P Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia

IHSG Melonjak Hampir 2% Usai S&P Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tajam pada perdagangan Senin (13/7/2026), seiring sentimen positif dari keputusan S&P Global Ratings yang kembali mempertahankan peringkat kredit (sovereign credit rating) Indonesia di level BBB dengan prospek (outlook) stabil.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG mengakhiri sesi perdagangan di level 6.037,842, naik 113,481 poin atau 1,92% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sepanjang hari, indeks bergerak di kisaran 5.898,147 hingga 6.037,842.

Aktivitas perdagangan juga terbilang ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp11,84 triliun dan volume perdagangan sebanyak 26,16 miliar saham.

Dari seluruh sektor, sembilan indeks sektoral mencatatkan penguatan dan menjadi penopang kenaikan IHSG. Sementara itu, hanya dua sektor yang berakhir di zona merah.

Secara keseluruhan, terdapat 377 saham menguat, 250 saham melemah, dan 167 saham ditutup tidak berubah.

Penguatan IHSG mulai terlihat pada sesi kedua perdagangan, bertepatan dengan pengumuman S&P yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB/A-2 dengan prospek stabil.

Mengutip laporannya, S&P menilai tekanan terhadap kondisi fiskal dan sektor eksternal Indonesia saat ini masih bersifat sementara dan diperkirakan akan membaik seiring kenaikan harga komoditas serta kebijakan pemerintah yang lebih konsisten.

"Outlook stabil mencerminkan ekspektasi kami bahwa memburuknya metrik fiskal dan eksternal bersifat sementara dan akan berbalik seiring harga komoditas yang lebih tinggi dan laju perubahan kebijakan yang lebih stabil," tulis S&P dalam laporannya.

Baca Juga: S&P DJI Masukkan Indonesia ke Watchlist 2027, Status Emerging Market Terancam

Baca Juga: BEI Buka Dialog dengan S&P DJI Usai Indonesia Masuk Watchlist 2027

Selain mempertahankan peringkat kredit Indonesia, S&P juga memperkirakan ekonomi nasional tetap tumbuh 5,1% pada 2026.

Lembaga pemeringkat internasional tersebut menilai komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi salah satu faktor utama yang menopang peringkat kredit Indonesia. 

Di samping itu, kebijakan hilirisasi dan upaya memperkuat pengawasan ekspor melalui Data Sistem Indonesia (DSI) dinilai berpotensi meningkatkan penerimaan negara dalam jangka menengah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dwi Aditya Putra