- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
DCII Milik Salim dan Toto Sugiri Siap Ekspansi Besar, Fitch Ungkap Prospeknya
Kredit Foto: DCI
Fitch Ratings Indonesia mempertahankan peringkat kredit nasional PT DCI Indonesia Tbk (DCII) di level AA-(idn)dengan prospek (outlook) stabil. Lembaga pemeringkat tersebut menilai prospek bisnis operator pusat data hasil kongsi antara Salim dan Toto Sugiri itu tetap kuat, didukung ekspansi kapasitas yang telah dikunci melalui kontrak dengan pelanggan.
Fitch memperkirakan DCI akan meningkatkan kapasitas pusat datanya secara signifikan dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Total kapasitas diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 850 megawatt (MW) dari 128 MW pada 2025. Tambahan kapasitas tersebut berasal dari pembangunan pusat data milik sendiri maupun proyek yang dikembangkan bersama mitra.
Seiring ekspansi itu, EBITDA atau laba operasional sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi diperkirakan melonjak menjadi Rp5 triliun-Rp6 triliun pada 2027-2028, dibandingkan sekitar Rp1,5 triliun pada 2025.
Fitch menilai risiko ekspansi relatif rendah karena sebagian besar kapasitas baru telah memiliki pelanggan melalui kontrak jangka panjang. Dengan demikian, pendapatan dari proyek tersebut sudah memiliki kepastian ketika fasilitas mulai beroperasi.
“Pertumbuhan kapasitas didukung permintaan yang kuat dari pelanggan hyperscale dan memiliki visibilitas arus kas yang tinggi karena telah dikontrak,” tulis Fitch dalam laporannya.
Meski prospek bisnis dinilai positif, Fitch memperkirakan rasio utang terhadap EBITDA akan meningkat selama masa pembangunan pusat data baru. Rasio tersebut diproyeksikan naik menjadi 5,5-6 kali pada 2026, dari sekitar 1 kali pada 2025, karena sebagian investasi dibiayai melalui pinjaman.
Namun, setelah kapasitas baru mulai menghasilkan pendapatan, rasio utang diperkirakan turun kembali ke sekitar 4 kali pada 2027.
Menurut Fitch, tingginya kepastian pendapatan dari kontrak pelanggan menjadi faktor utama yang menjaga profil kredit DCI tetap kuat meskipun perusahaan sedang melakukan investasi besar.
DCI saat ini merupakan operator pusat data terbesar di Indonesia dengan lebih dari 250 pelanggan, yang mencakup penyedia layanan komputasi awan (cloud), perusahaan media sosial, e-commerce, lembaga keuangan, hingga penyedia jaringan telekomunikasi.
Fitch memperkirakan pelanggan berskala besar (hyperscale) akan menyumbang 70%-90% pendapatan berulang DCI dalam beberapa tahun ke depan, meningkat dari sekitar 65% pada 2025.
Selain itu, lebih dari 90% kapasitas pusat data yang dimiliki DCI telah terisi berdasarkan kontrak. Seluruh fasilitas perusahaan juga telah mengantongi sertifikasi Tier IV Gold Operation Sustainability, yang menunjukkan tingkat keandalan operasional tinggi sehingga mampu meminimalkan risiko gangguan layanan.
Dari sisi keuangan, model bisnis DCI didukung kontrak sewa jangka panjang dengan rata-rata masa berlaku tujuh hingga 10 tahun. Sebagian besar pelanggan juga memiliki opsi memperpanjang kontrak, sehingga memberikan kepastian arus kas bagi perusahaan.
Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat di Tengah Tekanan Manufaktur dan Outlook Fitch
Baca Juga: Purbaya Sebut Rasio Utang RI Masih Aman, Singgung Rating BBB Outlook Stabil dari S&P
Untuk mendukung ekspansi, Fitch memperkirakan DCI mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp10 triliun-Rp15 triliun per tahun pada 2026-2027. Selama periode tersebut, perusahaan juga diperkirakan tidak membagikan dividen agar dana difokuskan untuk investasi.
Hingga akhir Maret 2026, DCI memiliki kas sebesar Rp256 miliar dan fasilitas kredit investasi tambahan senilai Rp17 triliun dari PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk untuk mendukung pembangunan pusat data baru.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri