Berbohong Demi Iklan, Presiden La Liga Sebut Gianni Infantino Sudah Rusak Piala Dunia dan Sepak Bola
Kredit Foto: FIFA
Presiden La Liga Javier Tebas melontarkan kritik keras terhadap pengelolaan piala dunia oleh Presiden Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) Gianni Infantino. Kepemimpinan sosok itu dinilai lebih mengutamakan kepentingan komersial dibanding menjaga kualitas sepak bola.
Tebas menyoroti salah satu kebijakan terkait dengan penerapan jeda hidrasi wajib selama tiga menit di seluruh pertandingan piala dunia, termasuk di stadion yang memiliki pendingin udara. FIFA sebelumnya menyatakan kebijakan tersebut diterapkan sebagai bentuk perlindungan terhadap kesehatan pemain. Namun, Tebas menilai alasan itu tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
Baca Juga: Modal Jokowi Bertambah untuk Hadapi Dokter Tifa dan Roy Suryo di Sidang Kasus Ijazah
"Jeda hidrasi itu bohong. Kami juga menerapkannya di La Liga. Namun kami hanya menerapkannya ketika cuacanya benar-benar panas," kata Tebas, dikutip Rabu (22/7/2026).
Ia mencontohkan sejumlah stadion di Amerika Serikat, seperti Dallas, Los Angeles, dan Atlanta, yang justru memiliki suhu sejuk karena menggunakan pendingin udara.
"Di sini, lapangan di Dallas, Los Angeles, Atlanta memiliki pendingin udara. Saya bahkan harus memakai jaket di tribun. Itu bohong, jeda itu untuk iklan," ujarnya.
Tebas juga mengkritik pertunjukan paruh waktu final piala dunia yang berlangsung lebih dari 27 menit. FIFA dalam laga final diketahui menghadirkan penampilan artis dunia seperti Madonna, Shakira dan Justin Bieber. Hal tersebut membuat durasi jeda babak pertama bertambah jauh dari standar sepak bola yang umumnya hanya 15 menit.
Menurut Tebas, keputusan tersebut menunjukkan bahwa federasi bersedia mengubah aturan permainan demi memenuhi kepentingan bisnis.
"FIFA mengatur semuanya sesuka hati, untuk apa yang mereka inginkan, demi kepentingan mereka sendiri, tentu bukan demi sepak bola. Jadi kalau mereka membutuhkan jeda babak pertama selama 27 menit, mereka akan melakukannya," katanya.
Ia juga menentang wacana perluasan piala dunia menjadi 64 peserta pada masa mendatang. Menurutnya, sepak bola dunia tidak boleh hanya berpusat pada turnamen empat tahunan tersebut.
"Menambah jumlah tim nasional tidak masuk akal. Industri sepak bola bukan hanya Piala Dunia," ujarnya.
Tebas menilai kompetisi domestik selama ini menjadi fondasi utama keberlangsungan industri sepak bola karena menciptakan puluhan ribu lapangan pekerjaan.
"Mereka sedang menghancurkan industri sepak bola yang menghasilkan puluhan ribu pekerjaan demi sebuah turnamen yang berlangsung 40 hari dan hanya melibatkan sebagian kecil pemain," tegasnya.
Ia menambahkan, keputusan-keputusan federasi selama beberapa tahun terakhir menunjukkan organisasi tersebut lebih mengutamakan kepentingannya sendiri dibanding memperhatikan dampaknya terhadap ekosistem sepak bola global.
Baca Juga: UGM Ingatkan Prabowo: Kalangan Profesor Tak Akan Gentar Bayar Rp5 Juta Demi Tinggalkan Indonesia
"Ini bukti bahwa kita diatur oleh sebuah institusi yang melakukan dan memutuskan apa pun yang diinginkannya, kapan pun diinginkannya, hanya mengikuti kepentingannya sendiri tanpa mempertimbangkan dunia sepak bola secara keseluruhan. Dalam banyak kasus, keputusan itu justru merugikan sepak bola," tutur Tebas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar