Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Ditutup Anjlok 1,88%, Tersengat Harga Minyak Dunia dan Tarif Baru Trump

IHSG Ditutup Anjlok 1,88%, Tersengat Harga Minyak Dunia dan Tarif Baru Trump Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat (24/7/2026) dengan pelemahan tajam. Tekanan terhadap indeks dipicu meningkatnya kekhawatiran investor atas lonjakan harga minyak dunia serta kebijakan tarif baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG merosot 118,9 poin atau 1,88% ke level 6.196. Pada awal perdagangan, indeks bahkan sempat terkoreksi lebih dari 2%, sebelum perlahan memangkas pelemahannya.

Sentimen negatif juga tercermin pada mayoritas saham di BEI. Sebanyak 618 saham tercatat melemah, sementara 113 saham menguat dan 234 saham bergerak stagnan.

Meski IHSG berada di zona merah, aktivitas transaksi tetap tinggi. Total volume perdagangan mencapai 35,90 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp17,68 triliun.

Dalam risetnya, Phintraco Sekuritas menyebut IHSG masih akan berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (24/7/2026), seiring berlanjutnya kenaikan harga minyak dunia. IHSG diproyeksikan bergerak di kisaran support 6.200, pivot 6.300, dan resistance 6.380.

Dari sisi teknikal, indikator Stochastic RSI telah membentuk pola death cross di area overbought, yang mengindikasikan potensi pelemahan. Meski demikian, histogram MACD masih berada di zona positif, walaupun mulai menunjukkan penyempitan.

Menurut Phintraco, kenaikan harga minyak mentah masih menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. 

"Jika IHSG turun menembus level moving average (MA) 5 di sekitar 6.280, indeks berpeluang melanjutkan koreksi menuju area 6.200–6.250," tuis riset dari Phintraco Sekuritas.

Di sisi makroekonomi, jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) di Indonesia tercatat tumbuh 8,7% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp10.432,8 triliun pada Juni 2026. Meski masih meningkat, laju pertumbuhannya melambat dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 10,8%.

Pertumbuhan likuiditas tersebut didorong oleh kenaikan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,8% dan uang kuasi sebesar 6,9%. Di saat yang sama, pertumbuhan kredit justru meningkat menjadi 12,67% YoY, menunjukkan aktivitas penyaluran kredit masih cukup kuat.

Baca Juga: IHSG Berisiko Lanjutkan Pelemahan di Akhir Pekan

Baca Juga: Danantara Satukan Maskapai BUMN, Pelita Gabung ke Garuda Indonesia (GIAA)

Baca Juga: BEI Pantau Keras Saham JELI Akibat Anjlok Parah

Phintraco juga menyoroti laporan S&P yang menyebut pelemahan nilai tukar dapat memberikan dampak berbeda bagi korporasi di Asia, termasuk Indonesia. Perusahaan berorientasi ekspor berpotensi memperoleh keuntungan dari depresiasi mata uang, sementara emiten yang bergantung pada impor diperkirakan menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya.

S&P mengelompokkan 69 emiten korporasi dan infrastruktur di Indonesia, India, dan Korea berdasarkan tingkat eksposurnya terhadap risiko nilai tukar. Beberapa perusahaan dinilai lebih rentan terhadap pelemahan mata uang karena adanya ketidaksesuaian antara pendapatan operasional dan kewajiban pembiayaan dalam valuta asing.

"Secara historis, depresiasi mata uang yang tajam cenderung mengurangi kemampuan emiten dengan peringkat spekulatif dalam memenuhi kewajiban keuangannya," ungkap Phintraco Sekuritas.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Annisa Nurfitri