Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Riset Economist Enterprise: Self-Care Berpotensi Beri Manfaat Ekonomi hingga US$179 Miliar per Tahun

Riset Economist Enterprise: Self-Care Berpotensi Beri Manfaat Ekonomi hingga US$179 Miliar per Tahun Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Praktik self-care atau perawatan diri yang terintegrasi dengan sistem kesehatan berpotensi memberikan manfaat ekonomi global hingga sekitar US$179 miliar per tahun, sekaligus membantu berbagai negara mempercepat pencapaian Universal Health Coverage (UHC). Temuan tersebut diungkap dalam riset terbaru Economist Enterprise bertajuk "Making Self-Care Work: Integrating Self-Care into Health Systems" yang didukung Bayer.

Riset tersebut menilai bahwa self-care tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, tetapi juga mampu memperluas akses terhadap layanan kesehatan dan mengurangi beban sistem kesehatan yang saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari meningkatnya populasi lanjut usia, tingginya kasus penyakit kronis, keterbatasan tenaga medis, hingga kesenjangan akses layanan.

Dalam laporan itu dijelaskan, self-care akan memberikan manfaat optimal apabila menjadi bagian dari sistem kesehatan formal dengan dukungan informasi yang kredibel, akses yang terjangkau, serta mekanisme rujukan yang jelas.

Scientist The Department of Sexual, Reproductive, Maternal, Child, Adolescent Health and Ageing World Health Organization (WHO), Dr. Manjulaa Narasimhan, mengatakan self-care merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan.

"Self-care adalah garda terdepan untuk semua perawatan kesehatan. Dengan adanya bukti klinis, kebijakan yang mendukung, serta tenaga kesehatan dan perawatan yang terlatih, perawatan diri dapat berkontribusi besar dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi semua orang," ujarnya dalam riset tersebut.

Menurut WHO, self-care mencakup kemampuan individu, keluarga, dan komunitas dalam menjaga kesehatan, mulai dari penerapan pola hidup sehat, pencegahan penyakit, pemanfaatan teknologi digital, pemantauan kesehatan secara mandiri, hingga penggunaan obat bebas (over-the-counter).

Namun, ruang lingkup yang luas tersebut juga menghadirkan tantangan dalam aspek tata kelola, pengukuran, serta konsistensi implementasi di berbagai sistem kesehatan.

Economist Enterprise menegaskan bahwa self-care bukan pengganti layanan kesehatan formal, melainkan pelengkap yang mampu meningkatkan efisiensi sistem apabila didukung secara memadai.

Riset tersebut menyebutkan bahwa penerapan self-care yang didukung informasi terpercaya, produk yang terjangkau, dan jalur rujukan yang jelas mampu memperluas akses layanan kesehatan, memperkuat upaya pencegahan dan deteksi dini, meningkatkan kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatan, serta mengurangi tekanan terhadap fasilitas layanan kesehatan.

Member of the Bayer Board of Management and President Consumer Health, Julio Triana, mengatakan solusi self-care, termasuk perangkat digital, obat bebas yang aman, suplemen nutrisi, dan informasi edukatif, menjadi fondasi penting untuk mengatasi kesenjangan layanan kesehatan di berbagai negara.

Menurutnya, masyarakat perlu diberdayakan agar mampu mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatannya sendiri, sehingga dapat berperan lebih aktif dalam upaya pencegahan maupun pengobatan.

Riset tersebut juga mengidentifikasi tiga langkah utama agar self-care dapat menjadi bagian yang efektif dalam sistem kesehatan.

Pertama, memperkuat implementasi kebijakan melalui tata kelola yang jelas, pembagian tanggung jawab yang tegas, serta koordinasi antarpemangku kepentingan.

Kedua, memperluas akses melalui penyediaan produk dan layanan yang terjangkau, informasi yang dapat dipercaya, mekanisme pembiayaan yang tepat, serta dukungan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Ketiga, memperkuat sistem pengukuran, akuntabilitas, dan bukti ilmiah guna memantau hasil, keselamatan pasien, serta menyediakan data yang dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dan investasi.

Sejumlah negara disebut telah mengintegrasikan self-care ke dalam sistem kesehatannya. Jerman, misalnya, menerapkan skema green prescriptions yang memungkinkan dokter meresepkan obat bebas sebagai bagian dari terapi mandiri dengan panduan medis.

Sementara di Indonesia, pendekatan tersebut diwujudkan melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang mendorong penerapan pola hidup sehat, sanitasi, serta edukasi kesehatan mandiri, termasuk penggunaan obat secara bertanggung jawab.

Baca Juga: Industri Geospasial RI Bidik Peluang dari Proyek ILASPP Senilai US$653 Juta

Director General Global Self-Care Federation, Greg Perry, menegaskan bahwa self-care tidak dimaksudkan untuk mengalihkan tanggung jawab sistem kesehatan.

Sebaliknya, menurut dia, produk dan layanan self-care berbasis bukti serta obat bebas yang disertai informasi yang akurat justru menciptakan ruang kapasitas bagi sistem rujukan sehingga pasien yang membutuhkan penanganan medis dapat memperoleh layanan secara tepat waktu.

Berdasarkan temuan Economist Enterprise, penguatan tata kelola, pembiayaan, akuntabilitas, dan sistem pendukung akan menjadikan self-care sebagai pendekatan yang hemat biaya sekaligus mampu mendukung terciptanya sistem kesehatan yang lebih preventif, proaktif, dan berkelanjutan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: