Pantas Indonesia Tertinggal? Cendekiawan Sebut Prabowo Tidak Intelektual, MBG Juga Tak Jelas
Kredit Foto: BPMI
Perdebatan mengenai arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali mencuat. Kali ini, sorotan datang dari cendekiawan kebangsaan sekaligus pemikir Kebinekaan, Sukidi, yang mengkritisi kualitas kepemimpinan, pembangunan sumber daya manusia (SDM), hingga efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Sukidi, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan kualitas pendidikan yang dinilai masih tertinggal jauh. Ia bahkan menilai belum melihat adanya perkembangan intelektual yang signifikan dari Presiden Prabowo dalam memimpin negara.
Secara blak-blakan, Sukidi mengatakan banyaknya koleksi buku yang dimiliki seorang pemimpin tidak otomatis mencerminkan kapasitas intelektualnya.
"Saya tidak melihat bahwa Presiden tumbuh secara intelektual. (Memiliki banyak buku) itu tidak menandakan dia mempunyai pertumbuhan secara intelektual," kata Sukidi dalam keterangannya, dikutip Rabu (29/7/2026).
Baca Juga: Pantas Selalu Lolos? Purnawirawan TNI Sebut Jokowi Dilindungi Banyak 'Orang Kuat'
Ia kemudian mengarahkan perhatian pada kondisi pendidikan nasional yang menurutnya menjadi akar berbagai persoalan bangsa. Sukidi menilai Indonesia masih tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM).
"Saya melihat bahwa masalah terbesar kita itu adalah pada aspek pendidikan. Karena kita menyadari bahwa pendidikan kita itu jauh tertinggal. Terutama pada sains, teknologi, engineering, dan math itu sendiri," ujarnya.
Menurut Sukidi, dampak dari lemahnya kualitas pendidikan sudah terlihat jelas. Indonesia, kata dia, bukan hanya tertinggal dari negara-negara maju, tetapi juga mulai kalah bersaing dengan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
"Dan ini terbukti bahwa kita bukan hanya tertinggal jauh dari dunia, tapi juga tertinggal bahkan dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara sekalipun," katanya.
Lebih lanjut, Sukidi berpandangan bahwa ketertinggalan di sektor pendidikan ikut memengaruhi kualitas sumber daya manusia yang masuk ke dunia kerja. Ia menilai sebagian besar lulusan pendidikan menengah masih belum memiliki keterampilan yang memadai untuk bersaing.
Baca Juga: Survei Ungkap 61,6% Publik Tak Puas terhadap MBG, Program Andalan Prabowo Bakal Distop?
"Karena itu, ketertinggalan pada dunia pendidikan mengakibatkan bahwa human capital kita, modal manusia yang akhirnya tersebar di pasar, itu tak lebih dari mereka terutama lulusan SMP dan SMA," ungkap Sukidi.
Selain itu, ia juga menyinggung lemahnya kemampuan bahasa Inggris yang dinilai semakin mempersempit daya saing tenaga kerja Indonesia di tingkat regional maupun global.
Tak hanya mengkritisi sektor pendidikan, Sukidi juga menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo. Menurutnya, hingga kini tidak ada teori yang menunjukkan bahwa program tersebut memiliki hubungan langsung dengan kemakmuran suatu negara.
"Saya tidak melihat bahwa aspek pendidikan ini diperbaiki dengan baik. Dan itu tidak ada teori di dunia mana pun bahwa MBG itu berkorelasi dengan kemakmuran satu bangsa," tambah dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: